\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertama<\/strong>, setelah berbuka puasa, artinya setelah makan dan minum selesai, kemudian menikmati rokok kretek akan terasa nikmat. Tapi perlu diwaspadai bagi sahabat kretek jangan sampai waktu sholat magribnya hilang. <\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sahabat kretek yang sedang berpuasa atau yang sedang relaksasi dan rekreasi, di bulan suci Ramadhan ini, ada waktu-waktu yang nikmat untuk menikmati rokok kretek, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/strong>, setelah berbuka puasa, artinya setelah makan dan minum selesai, kemudian menikmati rokok kretek akan terasa nikmat. Tapi perlu diwaspadai bagi sahabat kretek jangan sampai waktu sholat magribnya hilang. <\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merokok kretek sambil minum kopi atau sambil baca buku, koran dan lainnya, bagi sebagian orang menjadi sarana untuk merilekkan tubuh, dari rasa capek seharian bekerja. Begitu juga bagi yang tidak punya uang lebih untuk pergi rekreasi atau pergi tamasya, kuliner, cenderung akan mencari cara yang murah untuk merilekkan tubuhnya. Kalau ia penikmat rokok kretek, bisa dipastikan akan memilih menikmati sebatang dua batang rokok kretek dari pada harus pergi yang membutuhkan biaya besar. Jika  dibanding dengan mengeluarkan uang untuk membeli satu bungkus rokok kretek jauh lebih irit bagi sahabat kretek. <\/p>\n\n\n\n

Sahabat kretek yang sedang berpuasa atau yang sedang relaksasi dan rekreasi, di bulan suci Ramadhan ini, ada waktu-waktu yang nikmat untuk menikmati rokok kretek, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/strong>, setelah berbuka puasa, artinya setelah makan dan minum selesai, kemudian menikmati rokok kretek akan terasa nikmat. Tapi perlu diwaspadai bagi sahabat kretek jangan sampai waktu sholat magribnya hilang. <\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rekreasi dan relaksasi saat ini sangat dibutuhkan tiap manusia, dengan bermacam-macam cara. Ada yang bertamasya, ada yang kuliner, ada yang putar-putar alias jalan-jalan, ada yang olah raga dan masih banyak macamnya, dan tidak terkecuali aktifitas merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Merokok kretek sambil minum kopi atau sambil baca buku, koran dan lainnya, bagi sebagian orang menjadi sarana untuk merilekkan tubuh, dari rasa capek seharian bekerja. Begitu juga bagi yang tidak punya uang lebih untuk pergi rekreasi atau pergi tamasya, kuliner, cenderung akan mencari cara yang murah untuk merilekkan tubuhnya. Kalau ia penikmat rokok kretek, bisa dipastikan akan memilih menikmati sebatang dua batang rokok kretek dari pada harus pergi yang membutuhkan biaya besar. Jika  dibanding dengan mengeluarkan uang untuk membeli satu bungkus rokok kretek jauh lebih irit bagi sahabat kretek. <\/p>\n\n\n\n

Sahabat kretek yang sedang berpuasa atau yang sedang relaksasi dan rekreasi, di bulan suci Ramadhan ini, ada waktu-waktu yang nikmat untuk menikmati rokok kretek, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/strong>, setelah berbuka puasa, artinya setelah makan dan minum selesai, kemudian menikmati rokok kretek akan terasa nikmat. Tapi perlu diwaspadai bagi sahabat kretek jangan sampai waktu sholat magribnya hilang. <\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Nasehat K.H. Sya\u2019roni dan Pesan Moral R.M.P. Sosrokartono bagi Pemimpin <\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekreasi dan relaksasi saat ini sangat dibutuhkan tiap manusia, dengan bermacam-macam cara. Ada yang bertamasya, ada yang kuliner, ada yang putar-putar alias jalan-jalan, ada yang olah raga dan masih banyak macamnya, dan tidak terkecuali aktifitas merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Merokok kretek sambil minum kopi atau sambil baca buku, koran dan lainnya, bagi sebagian orang menjadi sarana untuk merilekkan tubuh, dari rasa capek seharian bekerja. Begitu juga bagi yang tidak punya uang lebih untuk pergi rekreasi atau pergi tamasya, kuliner, cenderung akan mencari cara yang murah untuk merilekkan tubuhnya. Kalau ia penikmat rokok kretek, bisa dipastikan akan memilih menikmati sebatang dua batang rokok kretek dari pada harus pergi yang membutuhkan biaya besar. Jika  dibanding dengan mengeluarkan uang untuk membeli satu bungkus rokok kretek jauh lebih irit bagi sahabat kretek. <\/p>\n\n\n\n

Sahabat kretek yang sedang berpuasa atau yang sedang relaksasi dan rekreasi, di bulan suci Ramadhan ini, ada waktu-waktu yang nikmat untuk menikmati rokok kretek, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/strong>, setelah berbuka puasa, artinya setelah makan dan minum selesai, kemudian menikmati rokok kretek akan terasa nikmat. Tapi perlu diwaspadai bagi sahabat kretek jangan sampai waktu sholat magribnya hilang. <\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebiasan Nabi Muhammad kalau tidak sedang berpuasa, ia tidak akan makan sebelum perut betul betul terasa lapar. Ia tidak akan minum sebelum betul betul terasa haus. Ia akan berhenti makan, sebelum kenyang, ia akan berhenti minum sebelum hausnya hilang. Inilah kebiasaan Nabi Muhammad yang seharusnya di tiru sahabat krete. Agar kenikmatan selalu melekat pada kita, saat menikmati rokok kretek. Terlalu banyak merokok kretek dalam batas kewajaran, nikmatnya akan hilang. Karena menikmati rokok kretek bukan sekedar menikmati rasa rokoknya. Lebih dari itu, merokok adalah perbuatan untuk rekreasi dan relaksasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasehat K.H. Sya\u2019roni dan Pesan Moral R.M.P. Sosrokartono bagi Pemimpin <\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekreasi dan relaksasi saat ini sangat dibutuhkan tiap manusia, dengan bermacam-macam cara. Ada yang bertamasya, ada yang kuliner, ada yang putar-putar alias jalan-jalan, ada yang olah raga dan masih banyak macamnya, dan tidak terkecuali aktifitas merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Merokok kretek sambil minum kopi atau sambil baca buku, koran dan lainnya, bagi sebagian orang menjadi sarana untuk merilekkan tubuh, dari rasa capek seharian bekerja. Begitu juga bagi yang tidak punya uang lebih untuk pergi rekreasi atau pergi tamasya, kuliner, cenderung akan mencari cara yang murah untuk merilekkan tubuhnya. Kalau ia penikmat rokok kretek, bisa dipastikan akan memilih menikmati sebatang dua batang rokok kretek dari pada harus pergi yang membutuhkan biaya besar. Jika  dibanding dengan mengeluarkan uang untuk membeli satu bungkus rokok kretek jauh lebih irit bagi sahabat kretek. <\/p>\n\n\n\n

Sahabat kretek yang sedang berpuasa atau yang sedang relaksasi dan rekreasi, di bulan suci Ramadhan ini, ada waktu-waktu yang nikmat untuk menikmati rokok kretek, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/strong>, setelah berbuka puasa, artinya setelah makan dan minum selesai, kemudian menikmati rokok kretek akan terasa nikmat. Tapi perlu diwaspadai bagi sahabat kretek jangan sampai waktu sholat magribnya hilang. <\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nikmat, akan terasa jika terjadi saat batas kewajaran atau bahkan saat kekurangan. Contohnya, manusia akan lebih merasakan nikmat di saat awalnya kekurangan kemudian menjadi tambah. Beda dengan awalnya memang sudah tambah, kemudian bertambah lagi, tidak begitu terasa nikmatnya. Kembali ke puasa, satu hari penuh menahan haus dan lapar, di saat berbuka nikmatnya begitu terasa. Berbeda saat makan dan minum di waktu yang bisa dilakukan semaunya (tidak dalam keadaan puasa) rasa nikmatnya biasa.<\/p>\n\n\n\n

Kebiasan Nabi Muhammad kalau tidak sedang berpuasa, ia tidak akan makan sebelum perut betul betul terasa lapar. Ia tidak akan minum sebelum betul betul terasa haus. Ia akan berhenti makan, sebelum kenyang, ia akan berhenti minum sebelum hausnya hilang. Inilah kebiasaan Nabi Muhammad yang seharusnya di tiru sahabat krete. Agar kenikmatan selalu melekat pada kita, saat menikmati rokok kretek. Terlalu banyak merokok kretek dalam batas kewajaran, nikmatnya akan hilang. Karena menikmati rokok kretek bukan sekedar menikmati rasa rokoknya. Lebih dari itu, merokok adalah perbuatan untuk rekreasi dan relaksasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasehat K.H. Sya\u2019roni dan Pesan Moral R.M.P. Sosrokartono bagi Pemimpin <\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekreasi dan relaksasi saat ini sangat dibutuhkan tiap manusia, dengan bermacam-macam cara. Ada yang bertamasya, ada yang kuliner, ada yang putar-putar alias jalan-jalan, ada yang olah raga dan masih banyak macamnya, dan tidak terkecuali aktifitas merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Merokok kretek sambil minum kopi atau sambil baca buku, koran dan lainnya, bagi sebagian orang menjadi sarana untuk merilekkan tubuh, dari rasa capek seharian bekerja. Begitu juga bagi yang tidak punya uang lebih untuk pergi rekreasi atau pergi tamasya, kuliner, cenderung akan mencari cara yang murah untuk merilekkan tubuhnya. Kalau ia penikmat rokok kretek, bisa dipastikan akan memilih menikmati sebatang dua batang rokok kretek dari pada harus pergi yang membutuhkan biaya besar. Jika  dibanding dengan mengeluarkan uang untuk membeli satu bungkus rokok kretek jauh lebih irit bagi sahabat kretek. <\/p>\n\n\n\n

Sahabat kretek yang sedang berpuasa atau yang sedang relaksasi dan rekreasi, di bulan suci Ramadhan ini, ada waktu-waktu yang nikmat untuk menikmati rokok kretek, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/strong>, setelah berbuka puasa, artinya setelah makan dan minum selesai, kemudian menikmati rokok kretek akan terasa nikmat. Tapi perlu diwaspadai bagi sahabat kretek jangan sampai waktu sholat magribnya hilang. <\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bisa jadi, ketidakkontrolan sebagian orang tersebut karena ada rasa dendam yang berlebihan saat menjalankan puasa. Misalnya, saat puasa, serasa berat menahan haus atau serasa berat menahan lapar, akibat tidak sahur. Begitu buka puasa, mendobel makan dan minum hingga terlalau kenyang. Nah, perbuatan seperti ini, agama melarangnya dan bagi tubuh tidak baik pula. Untuk itu bagi sahabat kretek jauhi perbuatan tersebut. Nikmati kenikmatan yang sewajarnya. Makan dan minum sewajarnya sesuai porsi. Menikmati rokok kretek juga demikian, jangan terlalu kebanyakan karena akan hilang nikmatannya.<\/p>\n\n\n\n

Nikmat, akan terasa jika terjadi saat batas kewajaran atau bahkan saat kekurangan. Contohnya, manusia akan lebih merasakan nikmat di saat awalnya kekurangan kemudian menjadi tambah. Beda dengan awalnya memang sudah tambah, kemudian bertambah lagi, tidak begitu terasa nikmatnya. Kembali ke puasa, satu hari penuh menahan haus dan lapar, di saat berbuka nikmatnya begitu terasa. Berbeda saat makan dan minum di waktu yang bisa dilakukan semaunya (tidak dalam keadaan puasa) rasa nikmatnya biasa.<\/p>\n\n\n\n

Kebiasan Nabi Muhammad kalau tidak sedang berpuasa, ia tidak akan makan sebelum perut betul betul terasa lapar. Ia tidak akan minum sebelum betul betul terasa haus. Ia akan berhenti makan, sebelum kenyang, ia akan berhenti minum sebelum hausnya hilang. Inilah kebiasaan Nabi Muhammad yang seharusnya di tiru sahabat krete. Agar kenikmatan selalu melekat pada kita, saat menikmati rokok kretek. Terlalu banyak merokok kretek dalam batas kewajaran, nikmatnya akan hilang. Karena menikmati rokok kretek bukan sekedar menikmati rasa rokoknya. Lebih dari itu, merokok adalah perbuatan untuk rekreasi dan relaksasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasehat K.H. Sya\u2019roni dan Pesan Moral R.M.P. Sosrokartono bagi Pemimpin <\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekreasi dan relaksasi saat ini sangat dibutuhkan tiap manusia, dengan bermacam-macam cara. Ada yang bertamasya, ada yang kuliner, ada yang putar-putar alias jalan-jalan, ada yang olah raga dan masih banyak macamnya, dan tidak terkecuali aktifitas merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Merokok kretek sambil minum kopi atau sambil baca buku, koran dan lainnya, bagi sebagian orang menjadi sarana untuk merilekkan tubuh, dari rasa capek seharian bekerja. Begitu juga bagi yang tidak punya uang lebih untuk pergi rekreasi atau pergi tamasya, kuliner, cenderung akan mencari cara yang murah untuk merilekkan tubuhnya. Kalau ia penikmat rokok kretek, bisa dipastikan akan memilih menikmati sebatang dua batang rokok kretek dari pada harus pergi yang membutuhkan biaya besar. Jika  dibanding dengan mengeluarkan uang untuk membeli satu bungkus rokok kretek jauh lebih irit bagi sahabat kretek. <\/p>\n\n\n\n

Sahabat kretek yang sedang berpuasa atau yang sedang relaksasi dan rekreasi, di bulan suci Ramadhan ini, ada waktu-waktu yang nikmat untuk menikmati rokok kretek, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/strong>, setelah berbuka puasa, artinya setelah makan dan minum selesai, kemudian menikmati rokok kretek akan terasa nikmat. Tapi perlu diwaspadai bagi sahabat kretek jangan sampai waktu sholat magribnya hilang. <\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kenikmatan saat berbuka tidak ada tandingannya. Bahkan saking nikmatnya terkadang banyak yang tidak control.  Makan dan minum berlebihan, melebihi kapasitas tampungan perut, sehingga mengakibatkan terlalu kenyang. Dampaknya perut sakit dan seluruh badan juga ikut terasa sakit. Pokoknya badan saat digerrakkan terasa tidak nyaman, dan ada juga yang pingin muntah tapi tidak bisa.       <\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi, ketidakkontrolan sebagian orang tersebut karena ada rasa dendam yang berlebihan saat menjalankan puasa. Misalnya, saat puasa, serasa berat menahan haus atau serasa berat menahan lapar, akibat tidak sahur. Begitu buka puasa, mendobel makan dan minum hingga terlalau kenyang. Nah, perbuatan seperti ini, agama melarangnya dan bagi tubuh tidak baik pula. Untuk itu bagi sahabat kretek jauhi perbuatan tersebut. Nikmati kenikmatan yang sewajarnya. Makan dan minum sewajarnya sesuai porsi. Menikmati rokok kretek juga demikian, jangan terlalu kebanyakan karena akan hilang nikmatannya.<\/p>\n\n\n\n

Nikmat, akan terasa jika terjadi saat batas kewajaran atau bahkan saat kekurangan. Contohnya, manusia akan lebih merasakan nikmat di saat awalnya kekurangan kemudian menjadi tambah. Beda dengan awalnya memang sudah tambah, kemudian bertambah lagi, tidak begitu terasa nikmatnya. Kembali ke puasa, satu hari penuh menahan haus dan lapar, di saat berbuka nikmatnya begitu terasa. Berbeda saat makan dan minum di waktu yang bisa dilakukan semaunya (tidak dalam keadaan puasa) rasa nikmatnya biasa.<\/p>\n\n\n\n

Kebiasan Nabi Muhammad kalau tidak sedang berpuasa, ia tidak akan makan sebelum perut betul betul terasa lapar. Ia tidak akan minum sebelum betul betul terasa haus. Ia akan berhenti makan, sebelum kenyang, ia akan berhenti minum sebelum hausnya hilang. Inilah kebiasaan Nabi Muhammad yang seharusnya di tiru sahabat krete. Agar kenikmatan selalu melekat pada kita, saat menikmati rokok kretek. Terlalu banyak merokok kretek dalam batas kewajaran, nikmatnya akan hilang. Karena menikmati rokok kretek bukan sekedar menikmati rasa rokoknya. Lebih dari itu, merokok adalah perbuatan untuk rekreasi dan relaksasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasehat K.H. Sya\u2019roni dan Pesan Moral R.M.P. Sosrokartono bagi Pemimpin <\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekreasi dan relaksasi saat ini sangat dibutuhkan tiap manusia, dengan bermacam-macam cara. Ada yang bertamasya, ada yang kuliner, ada yang putar-putar alias jalan-jalan, ada yang olah raga dan masih banyak macamnya, dan tidak terkecuali aktifitas merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Merokok kretek sambil minum kopi atau sambil baca buku, koran dan lainnya, bagi sebagian orang menjadi sarana untuk merilekkan tubuh, dari rasa capek seharian bekerja. Begitu juga bagi yang tidak punya uang lebih untuk pergi rekreasi atau pergi tamasya, kuliner, cenderung akan mencari cara yang murah untuk merilekkan tubuhnya. Kalau ia penikmat rokok kretek, bisa dipastikan akan memilih menikmati sebatang dua batang rokok kretek dari pada harus pergi yang membutuhkan biaya besar. Jika  dibanding dengan mengeluarkan uang untuk membeli satu bungkus rokok kretek jauh lebih irit bagi sahabat kretek. <\/p>\n\n\n\n

Sahabat kretek yang sedang berpuasa atau yang sedang relaksasi dan rekreasi, di bulan suci Ramadhan ini, ada waktu-waktu yang nikmat untuk menikmati rokok kretek, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/strong>, setelah berbuka puasa, artinya setelah makan dan minum selesai, kemudian menikmati rokok kretek akan terasa nikmat. Tapi perlu diwaspadai bagi sahabat kretek jangan sampai waktu sholat magribnya hilang. <\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ketetapan Hukum Rokok dalam Fatwa NU: Mubah (Boleh) <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kenikmatan saat berbuka tidak ada tandingannya. Bahkan saking nikmatnya terkadang banyak yang tidak control.  Makan dan minum berlebihan, melebihi kapasitas tampungan perut, sehingga mengakibatkan terlalu kenyang. Dampaknya perut sakit dan seluruh badan juga ikut terasa sakit. Pokoknya badan saat digerrakkan terasa tidak nyaman, dan ada juga yang pingin muntah tapi tidak bisa.       <\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi, ketidakkontrolan sebagian orang tersebut karena ada rasa dendam yang berlebihan saat menjalankan puasa. Misalnya, saat puasa, serasa berat menahan haus atau serasa berat menahan lapar, akibat tidak sahur. Begitu buka puasa, mendobel makan dan minum hingga terlalau kenyang. Nah, perbuatan seperti ini, agama melarangnya dan bagi tubuh tidak baik pula. Untuk itu bagi sahabat kretek jauhi perbuatan tersebut. Nikmati kenikmatan yang sewajarnya. Makan dan minum sewajarnya sesuai porsi. Menikmati rokok kretek juga demikian, jangan terlalu kebanyakan karena akan hilang nikmatannya.<\/p>\n\n\n\n

Nikmat, akan terasa jika terjadi saat batas kewajaran atau bahkan saat kekurangan. Contohnya, manusia akan lebih merasakan nikmat di saat awalnya kekurangan kemudian menjadi tambah. Beda dengan awalnya memang sudah tambah, kemudian bertambah lagi, tidak begitu terasa nikmatnya. Kembali ke puasa, satu hari penuh menahan haus dan lapar, di saat berbuka nikmatnya begitu terasa. Berbeda saat makan dan minum di waktu yang bisa dilakukan semaunya (tidak dalam keadaan puasa) rasa nikmatnya biasa.<\/p>\n\n\n\n

Kebiasan Nabi Muhammad kalau tidak sedang berpuasa, ia tidak akan makan sebelum perut betul betul terasa lapar. Ia tidak akan minum sebelum betul betul terasa haus. Ia akan berhenti makan, sebelum kenyang, ia akan berhenti minum sebelum hausnya hilang. Inilah kebiasaan Nabi Muhammad yang seharusnya di tiru sahabat krete. Agar kenikmatan selalu melekat pada kita, saat menikmati rokok kretek. Terlalu banyak merokok kretek dalam batas kewajaran, nikmatnya akan hilang. Karena menikmati rokok kretek bukan sekedar menikmati rasa rokoknya. Lebih dari itu, merokok adalah perbuatan untuk rekreasi dan relaksasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasehat K.H. Sya\u2019roni dan Pesan Moral R.M.P. Sosrokartono bagi Pemimpin <\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekreasi dan relaksasi saat ini sangat dibutuhkan tiap manusia, dengan bermacam-macam cara. Ada yang bertamasya, ada yang kuliner, ada yang putar-putar alias jalan-jalan, ada yang olah raga dan masih banyak macamnya, dan tidak terkecuali aktifitas merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Merokok kretek sambil minum kopi atau sambil baca buku, koran dan lainnya, bagi sebagian orang menjadi sarana untuk merilekkan tubuh, dari rasa capek seharian bekerja. Begitu juga bagi yang tidak punya uang lebih untuk pergi rekreasi atau pergi tamasya, kuliner, cenderung akan mencari cara yang murah untuk merilekkan tubuhnya. Kalau ia penikmat rokok kretek, bisa dipastikan akan memilih menikmati sebatang dua batang rokok kretek dari pada harus pergi yang membutuhkan biaya besar. Jika  dibanding dengan mengeluarkan uang untuk membeli satu bungkus rokok kretek jauh lebih irit bagi sahabat kretek. <\/p>\n\n\n\n

Sahabat kretek yang sedang berpuasa atau yang sedang relaksasi dan rekreasi, di bulan suci Ramadhan ini, ada waktu-waktu yang nikmat untuk menikmati rokok kretek, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/strong>, setelah berbuka puasa, artinya setelah makan dan minum selesai, kemudian menikmati rokok kretek akan terasa nikmat. Tapi perlu diwaspadai bagi sahabat kretek jangan sampai waktu sholat magribnya hilang. <\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berpuasa bagi penikmat rokok kretek bukanlah satu halangan. Karena dengan berpuasa, selain kita menghambakan diri kepada Tuhan, juga sebetulnya akan mendapatkan rasa lebih nikmat saat merokok kretek setelah berbuka puasa, contohnya. Tidak akan beda jauh dengan saat makan dan minum setelah satu hari berpuasa. Ketika berbuka rasanya begitu sangat nikmat. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ketetapan Hukum Rokok dalam Fatwa NU: Mubah (Boleh) <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kenikmatan saat berbuka tidak ada tandingannya. Bahkan saking nikmatnya terkadang banyak yang tidak control.  Makan dan minum berlebihan, melebihi kapasitas tampungan perut, sehingga mengakibatkan terlalu kenyang. Dampaknya perut sakit dan seluruh badan juga ikut terasa sakit. Pokoknya badan saat digerrakkan terasa tidak nyaman, dan ada juga yang pingin muntah tapi tidak bisa.       <\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi, ketidakkontrolan sebagian orang tersebut karena ada rasa dendam yang berlebihan saat menjalankan puasa. Misalnya, saat puasa, serasa berat menahan haus atau serasa berat menahan lapar, akibat tidak sahur. Begitu buka puasa, mendobel makan dan minum hingga terlalau kenyang. Nah, perbuatan seperti ini, agama melarangnya dan bagi tubuh tidak baik pula. Untuk itu bagi sahabat kretek jauhi perbuatan tersebut. Nikmati kenikmatan yang sewajarnya. Makan dan minum sewajarnya sesuai porsi. Menikmati rokok kretek juga demikian, jangan terlalu kebanyakan karena akan hilang nikmatannya.<\/p>\n\n\n\n

Nikmat, akan terasa jika terjadi saat batas kewajaran atau bahkan saat kekurangan. Contohnya, manusia akan lebih merasakan nikmat di saat awalnya kekurangan kemudian menjadi tambah. Beda dengan awalnya memang sudah tambah, kemudian bertambah lagi, tidak begitu terasa nikmatnya. Kembali ke puasa, satu hari penuh menahan haus dan lapar, di saat berbuka nikmatnya begitu terasa. Berbeda saat makan dan minum di waktu yang bisa dilakukan semaunya (tidak dalam keadaan puasa) rasa nikmatnya biasa.<\/p>\n\n\n\n

Kebiasan Nabi Muhammad kalau tidak sedang berpuasa, ia tidak akan makan sebelum perut betul betul terasa lapar. Ia tidak akan minum sebelum betul betul terasa haus. Ia akan berhenti makan, sebelum kenyang, ia akan berhenti minum sebelum hausnya hilang. Inilah kebiasaan Nabi Muhammad yang seharusnya di tiru sahabat krete. Agar kenikmatan selalu melekat pada kita, saat menikmati rokok kretek. Terlalu banyak merokok kretek dalam batas kewajaran, nikmatnya akan hilang. Karena menikmati rokok kretek bukan sekedar menikmati rasa rokoknya. Lebih dari itu, merokok adalah perbuatan untuk rekreasi dan relaksasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasehat K.H. Sya\u2019roni dan Pesan Moral R.M.P. Sosrokartono bagi Pemimpin <\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekreasi dan relaksasi saat ini sangat dibutuhkan tiap manusia, dengan bermacam-macam cara. Ada yang bertamasya, ada yang kuliner, ada yang putar-putar alias jalan-jalan, ada yang olah raga dan masih banyak macamnya, dan tidak terkecuali aktifitas merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Merokok kretek sambil minum kopi atau sambil baca buku, koran dan lainnya, bagi sebagian orang menjadi sarana untuk merilekkan tubuh, dari rasa capek seharian bekerja. Begitu juga bagi yang tidak punya uang lebih untuk pergi rekreasi atau pergi tamasya, kuliner, cenderung akan mencari cara yang murah untuk merilekkan tubuhnya. Kalau ia penikmat rokok kretek, bisa dipastikan akan memilih menikmati sebatang dua batang rokok kretek dari pada harus pergi yang membutuhkan biaya besar. Jika  dibanding dengan mengeluarkan uang untuk membeli satu bungkus rokok kretek jauh lebih irit bagi sahabat kretek. <\/p>\n\n\n\n

Sahabat kretek yang sedang berpuasa atau yang sedang relaksasi dan rekreasi, di bulan suci Ramadhan ini, ada waktu-waktu yang nikmat untuk menikmati rokok kretek, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/strong>, setelah berbuka puasa, artinya setelah makan dan minum selesai, kemudian menikmati rokok kretek akan terasa nikmat. Tapi perlu diwaspadai bagi sahabat kretek jangan sampai waktu sholat magribnya hilang. <\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Banyak orang bilang, rokok kretek mengandung zat adiktif, yang membuat penghisapnya sakaw dan ketergantungan. Pada bulan inilah, semua tuduhan mereka terbantahkan. Perokok masih tetap hidup dan tidak kejang-kejang, meski seharian tidak merokok.<\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bagi penikmat rokok kretek bukanlah satu halangan. Karena dengan berpuasa, selain kita menghambakan diri kepada Tuhan, juga sebetulnya akan mendapatkan rasa lebih nikmat saat merokok kretek setelah berbuka puasa, contohnya. Tidak akan beda jauh dengan saat makan dan minum setelah satu hari berpuasa. Ketika berbuka rasanya begitu sangat nikmat. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ketetapan Hukum Rokok dalam Fatwa NU: Mubah (Boleh) <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kenikmatan saat berbuka tidak ada tandingannya. Bahkan saking nikmatnya terkadang banyak yang tidak control.  Makan dan minum berlebihan, melebihi kapasitas tampungan perut, sehingga mengakibatkan terlalu kenyang. Dampaknya perut sakit dan seluruh badan juga ikut terasa sakit. Pokoknya badan saat digerrakkan terasa tidak nyaman, dan ada juga yang pingin muntah tapi tidak bisa.       <\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi, ketidakkontrolan sebagian orang tersebut karena ada rasa dendam yang berlebihan saat menjalankan puasa. Misalnya, saat puasa, serasa berat menahan haus atau serasa berat menahan lapar, akibat tidak sahur. Begitu buka puasa, mendobel makan dan minum hingga terlalau kenyang. Nah, perbuatan seperti ini, agama melarangnya dan bagi tubuh tidak baik pula. Untuk itu bagi sahabat kretek jauhi perbuatan tersebut. Nikmati kenikmatan yang sewajarnya. Makan dan minum sewajarnya sesuai porsi. Menikmati rokok kretek juga demikian, jangan terlalu kebanyakan karena akan hilang nikmatannya.<\/p>\n\n\n\n

Nikmat, akan terasa jika terjadi saat batas kewajaran atau bahkan saat kekurangan. Contohnya, manusia akan lebih merasakan nikmat di saat awalnya kekurangan kemudian menjadi tambah. Beda dengan awalnya memang sudah tambah, kemudian bertambah lagi, tidak begitu terasa nikmatnya. Kembali ke puasa, satu hari penuh menahan haus dan lapar, di saat berbuka nikmatnya begitu terasa. Berbeda saat makan dan minum di waktu yang bisa dilakukan semaunya (tidak dalam keadaan puasa) rasa nikmatnya biasa.<\/p>\n\n\n\n

Kebiasan Nabi Muhammad kalau tidak sedang berpuasa, ia tidak akan makan sebelum perut betul betul terasa lapar. Ia tidak akan minum sebelum betul betul terasa haus. Ia akan berhenti makan, sebelum kenyang, ia akan berhenti minum sebelum hausnya hilang. Inilah kebiasaan Nabi Muhammad yang seharusnya di tiru sahabat krete. Agar kenikmatan selalu melekat pada kita, saat menikmati rokok kretek. Terlalu banyak merokok kretek dalam batas kewajaran, nikmatnya akan hilang. Karena menikmati rokok kretek bukan sekedar menikmati rasa rokoknya. Lebih dari itu, merokok adalah perbuatan untuk rekreasi dan relaksasi. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Nasehat K.H. Sya\u2019roni dan Pesan Moral R.M.P. Sosrokartono bagi Pemimpin <\/a><\/p>\n\n\n\n

Rekreasi dan relaksasi saat ini sangat dibutuhkan tiap manusia, dengan bermacam-macam cara. Ada yang bertamasya, ada yang kuliner, ada yang putar-putar alias jalan-jalan, ada yang olah raga dan masih banyak macamnya, dan tidak terkecuali aktifitas merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Merokok kretek sambil minum kopi atau sambil baca buku, koran dan lainnya, bagi sebagian orang menjadi sarana untuk merilekkan tubuh, dari rasa capek seharian bekerja. Begitu juga bagi yang tidak punya uang lebih untuk pergi rekreasi atau pergi tamasya, kuliner, cenderung akan mencari cara yang murah untuk merilekkan tubuhnya. Kalau ia penikmat rokok kretek, bisa dipastikan akan memilih menikmati sebatang dua batang rokok kretek dari pada harus pergi yang membutuhkan biaya besar. Jika  dibanding dengan mengeluarkan uang untuk membeli satu bungkus rokok kretek jauh lebih irit bagi sahabat kretek. <\/p>\n\n\n\n

Sahabat kretek yang sedang berpuasa atau yang sedang relaksasi dan rekreasi, di bulan suci Ramadhan ini, ada waktu-waktu yang nikmat untuk menikmati rokok kretek, yaitu:<\/p>\n\n\n\n

Pertama<\/strong>, setelah berbuka puasa, artinya setelah makan dan minum selesai, kemudian menikmati rokok kretek akan terasa nikmat. Tapi perlu diwaspadai bagi sahabat kretek jangan sampai waktu sholat magribnya hilang. <\/p>\n\n\n\n

Kedua<\/strong>, setelah sholat, baik setelah sholat magrib yang dilaksanakan setelah makan dan minum buka puasa, atau setelah sholat tarawih selesai. Setelah kewajiban kita mentaati agama selesai, serasa hati plong dan disaat itulah sangat nikmat merokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Ketiga<\/strong>, setelah tadarus al-Quran malam hari di masjid atau musholla, sudah menjadi adat setelah sholat tarawih di masjid atau musholla diadakan baca al-Quran bergantian disebut tadarus al-Quran, selesai tadarus \u00a0biasanya ngobrol sebentar sambil menikmati hidangan dari masyarakat dan minuman malah terkadang kopi, disitulah waktu yang nikmat merokok kretek sambil ngobrol, makan dan minum.<\/p>\n\n\n\n

Keempat<\/strong>, setelah sahur, setelah makan sahur juga waktu yang sangat nikmat merokok kretek sambil membawa sisa minuman.<\/p>\n\n\n\n

Kelima<\/strong>, menjelang waktu imsak, waktu yang terakhir boleh makan, minum dan merokok. Waktu yang sangat nikmat merokok kretek karena sebagai pamungkas. Tapi jangan lupa tetap diakhiri minum air putih dan gosok gigi.<\/p>\n\n\n\n

Inilah beberapa waktu yang nikmat untuk menghisap rokok kretek, adapun untuk relaksasi dan rekreasi tergantung waktun yang dibutuhkan. Tentunya di saat bulan suci Ramadhan, hanya diperbolehkan di malam hari sampai batas fajar shodik atau batas imsak. Jangan lupa dimalam hari untuk niat berpuasa dipagi harinya, begitu seterusnya sampai tanggal bulan suci Ramadhan dalam satu bulan selesai. Demikian, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah, bulan penuh pahala, bulan suci Ramadhan.
<\/p>\n","post_title":"Bulan Ramadhan, Kapan Waktu yang Tepat untuk Menikmati Rokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"bulan-ramadhan-kapan-waktu-yang-tepat-untuk-menikmati-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 14:14:45","post_modified_gmt":"2019-05-06 07:14:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5693","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5690,"post_author":"855","post_date":"2019-05-06 05:00:43","post_date_gmt":"2019-05-05 22:00:43","post_content":"\n

Dari jendela dapurnya, Yu Sri melihat gerombolan anak-anak sedang menyusuri jalan sembari memukuli ember, piring dan kentungan. \u201cSahurrr\u2026.. sahurrr\u2026. sahurrr<\/em>\u201d suara mereka bersahut-sahutan seirama dengan bunyi-bunyian yang mereka ciptakan. Jarum pendek pada jam dinding ruang makan  menunjuk angka 3. Yu Sri masih berjibaku menyiapkan makan sahur untuk keluarganya. Sesekali ia bersin lantaran aroma cabai yang ia goreng menusuk hidungnya.
<\/p>\n\n\n\n

Tak berselang lama, setelah semua lauk dan nasi siap di atas meja, Yu Sri membangunkan suami dan anak-anaknya untuk santap sahur bersama. Seperti bulan puasa sebelumnya, Yu Sri hanya menyiapkan dan menemani keluarganya, ia tak terbiasa santap sahur. Ia selalu merasa kenyang hanya karena mencium aroma masakannya dan sesekali mencicipi \u00a0untuk memastikan takaran bumbunya pas.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Waktu yang Pas untuk Merokok di Bulan Ramadan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Sementara anak-anaknya kembali tidur setelah sahur, Yu Sri dan suaminya duduk berdua di halaman belakang. Di atas meja, secangkir  kopi dan seplastik tembakau lengkap dengan cengkih dan kertas papir stelah tersedia. Suaminya melinting tembakau sebesar ibu jari orang dewasa dan memberikannya kepada Yu Sri. Yu Sri lantas membakarnnya, mengisap dalam-dalam dan menghempaskan asapnya. Ia menghisapnya tiga kali dan menyodorkan kepada suaminya. Begitulah cara mereka bertukar romansa di umur yang mulai senja.
<\/p>\n\n\n\n

Cangkir berisi kopi yang masih mengepul Yu Sri dekatkan ke hidungnya. Sambil terpejam ia menciumi aroma semerbak kopi pemberian keponakannya dari Temanggung. Ia menyesap kopi itu dan meletakkan kembali ke atas meja, kemudian menerima lintingan yang disodorkan suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cPak\u2026.\u201d kata Yu Sri membuka obrolan.
<\/p>\n\n\n\n

Suaminya menengok sembari merengkuh cangkir kopi sebagai tanda menunggu apa yang ingin disampaikan Yu Sri.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTadi selepas jama\u2019ah tarawih, ceramah Pak Yai bahas soal perbedaan syiam<\/em> dan shaum<\/em>. Aku tidak begitu mengerti, kenapa dua kata itu berbeda. Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa beda, Bu.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKok beda? Bukannya artinya sama-sama menahan?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya benar. Tapi shiyam adalah bagian dari arti shaum. Sementara shaum tidak pasti berarti shiyam.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Yu Sri mengernyitkan dahi. \u201cMaksudnya?\u201d kerjar Yu Sri sembari memberikan lintingan kepada suaminya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBegini lho, Bu. Kalau tidak salahm seingat Bapak waktu belajar di pesantren dulu, shiyam itu bermakna puasa secara fikih yaitu, tidak makan, tidak minum dan tidak wik wik <\/em>sejak tiba waktu subuh hingga maghrib. Sebagaimana definisi puasa yang sudah dihafal anak-anak kita,\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cShaum itu menahan diri dari angkara murka, menahan diri dari mencaci sesama, dan perbuatan-perbuatan keji yang menyakiti manusia dan alam.\u201d<\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

\u201cJadi shaum ini yang sebernya intinya puasa?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa. Benar.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cOh\u2026. itulah kenapa di niat puasa, shauma ghodin. <\/em>Begitu kan, Pak?\u201d<\/em>
<\/em>
<\/em>Suami Yu Sri manggut-manggut. Lintingan yang tinggal beberapa senti itu ia buang ke asbak. \u201cTapi semua orang mulai kehilangan makna. Memaknai segala sesuatu hanya di permukaan saja. Pandai mendefinisikan sesuatu, tetapi selalu gagal mengambil makna atas definisi yang sudah ia hafal di luar kepala.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cBanyak orang yang hanya berhenti pada shiyam, yang berarti menahan makan, minium dan wik wik  <\/em>ketika Ramadhan. Selebihnya?\u201d
<\/p>\n\n\n\n

\u201cKampret lagi, cebong lagi!\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Sepasang suami istri yang mulai senja itu terkekeh bersama mengiringi azan subuh menggema.
<\/p>\n","post_title":"Yu Sri dan Selinting Kretek Selepas Sahur","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yu-sri-dan-selinting-kretek-selepas-sahur","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-06 02:02:24","post_modified_gmt":"2019-05-05 19:02:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5690","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5682,"post_author":"1","post_date":"2019-05-04 11:41:11","post_date_gmt":"2019-05-04 04:41:11","post_content":"\n

Berdasarkan survei BPS (Badan Pusat Statistik) industri kecil pengolahan tembakau tercatat mengalami penurunan hingga 20,45%. Data tersebut menunjukan bahwa perkembangan kondisi industri kecil pengolahan tembakau sedang dalam kondisi yang kurang baik.
<\/p>\n\n\n\n

Di Malang misalnya, selama delapan tahun terakhir, Industri hasil tembakau di Kota Malang, Jawa Timur, terus bertumbangan. Sebanyak 115 pabrik rokok gulung tikar dalam kurun waktu delapan tahun. Perlu dicatat yang tumbang ini adalah industri kecil-menengah.
<\/p>\n\n\n\n

Lain lagi di Kudus, pasca keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 200 tahun 2010 soal batas luas bangunan pabrik rokok minimal 200 meter persegi. Industri kecil menengah yang tadinya beroperasi di rumah-rumah sebagai tempat produksi banyak yang gulung tikar, disebabkan tidak punya cukup modal untuk menyewa tempat atau gudang sebagai pabrik.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Asal Muasal Cukai Rokok dan Perkembangannya <\/a><\/p>\n\n\n\n

Meskipun pada tahun 2010 LIK (Lingkungan Industri Kecil) sektor rokok didirikan, hanya ada sebanyak 11 unit pabrik yang disediakan, dan kini hanya tersisa 7 pabrik rokok unit kecil menengah yang masih bertahan di LIK Kudus.
<\/p>\n\n\n\n

Dalam skala makro, Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mencatat, ada penurunan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi. Pabrikan rokok di Indonesia yang memiliki izin sebanyak 600 pabrik. Namun hanya 100 pabrik yang masih aktif berproduksi setiap harinya.
<\/p>\n\n\n\n

Tentunya penurunan jumlah pabrik rokok terjadi pada level pabrikan kecil-menengah. Sebab level ini modalnya hanya pas-pasan, tetapi tidak dapat survive karena bisnisnya menurun dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun industri rokok kecil-menengah di Indonesia didominasi oleh industri kretek. Industri rokok putihan justru levelnya ada di skala besar, dan didominasi oleh perusahaan asing multinasional.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Cukai Tembakau untuk Kampanye Anti-Tembakau, Sebuah Ironi! <\/a><\/p>\n\n\n\n

Secara umum, di sektor tembakau, selalu terjadi fluktuasi tren konsumsi pasar atas jenis rokok. Kita masih sangat ingat ketika Sampoerna memilih menutup salah satu pabrik SKT mereka di tengah-tengah penjualan rokok Sampoerna sedang mengalami kenaikan. Ini sungguh ironi, SKT memang terlihat seperti sunset<\/em> industri, jenis rokok yang semakin hari tren pasarnya terus menurun.
<\/p>\n\n\n\n

Dan, kasus penurunan SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang saat itu melanda tidak hanya pada produk Samporna, tetapi juga semua pabrikan rokok. Di tengah suasana ini, alih-alih bisa dibendung, perubahan tren konsumsi ini justru semakin melanda banyak pabrikan karena tidak ada iktikad baik pemerintah untuk melindungi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Dengan adanya kasus penutupan pabrik rokok kretek tangan di atas, pemerintah seharusnya tertampar. Di saat Negara sedang menggalakkan kemandirian nasional, ternyata banyak industry nasional yang berpotensi untuk tutup. Banyak pekerja kita yang nasibnya terancam apabila perlindungan kretek tidak segera dilakukan.
<\/p>\n\n\n\n

Salah satu solusi yang bisa didorong untuk melindungi kretek adalah dengan menghapus tarif cukai pada produk kretek yang mulai terancam, yakni SKT. Isu ini beberapa saat lalu juga telah didorong oleh menteri Perindustrian, MS Hidayat. Komunitas kretek sangat etuju dangan penghapusan tarif cukai pada SKT.
<\/p>\n\n\n\n

Kebijakan penghapusan tariff cukai SKT selain bisa mlindungi pada produk nasional dari serangan produk asing (rokok puth), juga bisa menyelamatkan banyak pabrikan kecil-menengah yang bergerak di bidang ini. Di sector hulu, kebijakan ini juga bisa dilihat sebagai keberpihakan pemerintah pada petani tembakau. Karena, semua tembakau yang digunakan dalam produk SKT adalah tembakau rakyat.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Kaleidoskop 2018: Industri Hasil Tembakau Ditikam, Cukainya Ditimang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Penghapusan cukai SKT semakin mendesak karena di tengah fluktuasi produk nasional, pemerintah harus punya keberpihakan pada industri nasional yang padat karya. Jangan sampai, penurunan SKT ini kemudian disikapi oleh pabrikan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja. Karena selama ini, untuk mengurangi beban biaya produksi, industri SKT cenderung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap buruhnya. Hal ini selain menimbulkan kecemasan bagi para pekerja, juga sangat merugikan bagi iklim ekonomi nasional.
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah harus berupaya agar kejadian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 4.900 buruh oleh pabrik rokok PT HM Sampoerna Tbk tidak kembali terulang. Apalagi industri SKT merata di berbagai skala industri, dari industri kecil hingga besar, tidak seperti rokok mild.<\/p>\n\n\n\n

Baik dari sisi buruh, pertanian, maupun industry, kebijakan penghapusan cukai SKT adalah bentuk keberpihakan pemerintah pada kepentingan nasional.
<\/p>\n","post_title":"Tarif Cukai SKT Harus Dihapuskan, Demi Keberlangsungan IHT","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tarif-cukai-skt-harus-dihapuskan-demi-keberlangsungan-iht","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-04 11:41:20","post_modified_gmt":"2019-05-04 04:41:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5682","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5679,"post_author":"878","post_date":"2019-05-03 11:19:10","post_date_gmt":"2019-05-03 04:19:10","post_content":"\n

Pada mulanya masyarakat pribumi yang mendiami benua Amerika mulai dari wilayah paling utara hingga ke selatan, dengan bermacam suku-suku yang hidup secara komunal\u2014yang kemudian disamaratakan penyebutannya oleh penjelajah Eropa dengan sebutan Suku Indian\u2014mengonsumsi tembakau yang dikeringkan sebagai sarana pelepas lelah, dan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang ada ketika itu. Mereka mengisap tembakau yang dikeringkan menggunakan sebuah pipa yang lazim disebut \u2018tubak<\/em>\u2019, selanjutnya bangsa Eropa menggunakan penyebutan \u2018tubak<\/em>\u2019 untuk menamakan daun kering tersebut, lahirlah istilah \u2018tobacco<\/em>\u2019 dalam bahasa Inggirs yang diserap menjadi \u2018tembakau\u2019 dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Melalui Colombus dan seluruh awak kapalnya yang mendatangi benua Amerika, kebiasaan mengisap tembakau ini kemudian diperkenalkan ke Eropa dan perlahan menjadi kebiasaan yang umum di sana. Konsumsi tembakau di Eropa terutama dimanfaatkan sebagai penghilang rasa dingin ketika musim dingin tiba di daratan Eropa. Bangsa Eropa kemudian membawa tembakau ke negeri jajahan mereka dan membudidayakannya di sana hingga pada akhirnya tembakau menjadi konsumsi yang mendunia, termasuk juga di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ariel Tatum dan Diskriminasi Perempuan Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia sendiri, tembakau pada mulanya digunakan sebagai bahan campuran dalam mengonsumsi sirih yang lazim disebut nyirih<\/em>. Karena dianggap jorok, penjajah Belanda melarang aktivitas nyirih dan mengenalkan konsumsi tembakau dengan cara dibakar dan diisap kepada masyarakat pribumi. Kebiasaan mengisap tembakau di Indonesia semakin populer usai Haji Djamhari menemukan ramuan tembakau kering yang dicampur cengkeh kering kemudian dibakar dan diisap sebagai obat asma yang ia derita. Campuran tembakau kering dan bunga cengkeh kering yang dibakar menimbulkan suara berkeretek hingga pada akhirnya produk rokok ini dinamakan rokok kretek dan menguasai pasar dalam negeri hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

Dari catatan singkat di atas, konsumsi tembakau kering yang diisap kemudian tembakau kering yang dicampur bunga cengkeh kering pada mulanya sebagai barang konsumsi untuk pengobatan dan relaksasi. Hingga pada akhirnya, persaingan bisnis menggiring kampanye-kampanye yang menyuarakan perihal keburukan konsumsi tembakau. Dalih kesehatan dijadikan alasan utama untuk menghancurkan perekonomian tembakau guna meloloskan bisnis farmasi yang dijalankan korporasi besar berskala internasional.<\/p>\n\n\n\n

Periode 2000 hingga saat ini, kampanye miring mengenai rokok dan rokok kretek kian menguat. Tak hanya korporasi besar, badan-badan kesehatan dunia juga ikut ambil peran dalam upaya menghancurkan produk rokok terutama rokok kretek yang menjadi ciri khas dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berita terbaru dalam sepekan terakhir, di Jepang, salah satu universitas negeri berencana memecat seluruh staf dan dosen mereka yang menjadi perokok aktif. Selain itu, beberapa perusahaan di Jepang juga akan mencoret langsung para pelamar kerja yang diketahui sebagai perokok aktif. Ini tentu saja menjadi kemunduran yang telak bagi negara Jepang. Padahal sebelumnya Jepang dikenal menjadi negara yang masih cukup ramah terhadap para perokok.<\/p>\n\n\n\n

Alasan Jepang memberlakukan kebijakan tersebut sebagai upaya menyambut perhelatan olimpiade 2020 yang akan diselenggarakan di Tokyo. Lagi-lagi, dalih kesehatan yang menjadi tameng kebijakan ini. Jika ditelaah secara saksama, tentu saja kebijakan ini sama sekali tidak ada relevansinya. Terkesan pemaksaan dan sekadar pencitraan semata.<\/p>\n\n\n\n

Lagi pula, tak ada relevansinya antara kecerdasan (dalam hal ini dunia kampus) dengan kebiasaan merokok. Juga tak ada relevansi antara kinerja (dalam hal ini pelamar kerja) dengan kebiasaan merokok. Lagi-lagi, ini semata sekadar cocokologi saja.<\/p>\n\n\n\n

Bodoh ya bodoh saja, malas ya malas saja, juga sebaliknya, tak ada kaitannya dengan kebiasaan merokok. Kita bisa menjejerkan ratusan bahkan ribuan nama-nama orang yang memiliki kebiasaan merokok, di sana akan ada orang-orang yang sangai pandai hingga orang-orang idiot sekalipun yang memiliki kebiasaan merokok. Kita juga bisa menjejerkan nama-nama ratusan hingga ribuan orang yang sama sekali tidak merokok, dan di sana akan ada orang yang pandai sekali juga akan ada orang goblok segoblok-gobloknya yang sama sekali tidak merokok. Lalu, apa alasan memecat staf dan dosen di kampus yang memiliki kebiasaan merokok?<\/p>\n\n\n\n

Hal yang sama juga bisa kita lakukan dengan jejeran nama-nama orang dengan kinerja dan etos kerja. Yang rajin, juga yang malas, ada dalam kelompok mereka yang merokok juga kelompok mereka yang tidak merokok. Maka, saya kira, apa yang terjadi di Jepang dan diberitakan dalam sepekan belakangan, tentu saja mengganggu akal sehat siapa saja yang masih bisa berpikir dengan jernih.
<\/p>\n","post_title":"Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"diskriminasi-terhadap-para-perokok-di-jepang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-03 11:19:17","post_modified_gmt":"2019-05-03 04:19:17","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5677,"post_author":"878","post_date":"2019-05-02 11:13:10","post_date_gmt":"2019-05-02 04:13:10","post_content":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_title":"Awal Mula Tembakau di Nusantara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"awal-mula-tembakau-di-nusantara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:46:31","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:46:31","post_content_filtered":"\r\n

Terdapat dua pendapat yang saling bertolak belakang terkait keberadaan tembakau dan pemanfaatannya sebagai produk konsumsi di negeri ini. Pendapat pertama mengatakan komoditas tembakau tumbuh alamiah di Nusantara. Pada mulanya ia dimanfaatkan sebagai salah satu elemen yang mendampingi sirih, pinang, kapur, dan gambir untuk dikonsumsi dengan cara dikunyah. Lantas setelahnya tembakau juga dimanfaatkan dengan cara dikeringkan kemudian dilinting hingga membentuk kerucut tak sempurna, lalu salah satu sisinya dibakar dan sisi lain digunakan untuk mengisap hasil pembakaran.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lainnya mengatakan bahwa tembakau bukan produk asli Nusantara. Ia dibawa ke sini oleh mereka yang datang ke Nusantara yang sebelumnya telah mengonsumsi tembakau. Persamaan dari dua pendapat yang ada, mula-mula tembakau dikonsumsi sebagai teman sirih, pinang, kapur dan gambir dalam ramuan yang dikunyah, bukan dalam bentuk rokok yang dibakar dan diisap.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya para akademisi dan pemerhati komoditas tembakau cenderung pada pendapat yang kedua. Mereka beranggapan pendapat pertama lemah dan cenderung bisa diabaikan. Akan tetapi, permasalahan belum selesai sampai di sini. Perdebatan lanjutan terjadi terkait siapa yang mula-mula membawa dan mengenalkan tembakau ke Indonesia atau Nusantara. Ada yang bilang penjelajah Cinalah yang mengenalkan tembakau ke Nusantara, ada yang bilang Portugis, ada yang berpendapat Spanyol, dan tentu saja ada yang berpendapat Belandalah yang mengenalkan tembakau ke Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Perempuan-perempuan Kudus Pewaris Keterampilan Membuat Kretek<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Seorang sinolog bernama Prof. G. Schlegel, dirunut dari penamaan tembakau yang digunakan di sini, orang-orang Portugislah yang membawa dan mengenalkan tembakau ke penduduk Nusantara. Istilah tembakau lebih dekat dengan tabaco<\/em> atau tumbaco<\/em> dalam bahasa Protugis untuk menyebut komoditas yang kini begitu populer sebagai bahan dasar produk rokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat lain berkata, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda. Thomas Stamford Raffles lah yang mengemukakan pendapat ini. Dalam buku yang ia tulis berjudul \u2018The History of Java<\/em>\u2019 ia mengemukakan pendapat itu. Menurut Raffles, tembakau dibawa dan dikenalkan kepada warga Nusantara oleh Belanda sekitar tahun 1601.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pendapat Raffles tentang tahun masuknya tembakau ke Nusantara ini diperkuat oleh pendapat De Candolle yang dikutip oleh Van Der Reijden dalam bukunya yang berjudul \u2018Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java<\/em>\u2019. Menurut De Condolle yang dikutip dalam buku berjudul panjang sekali itu, tanaman tembakau telah dibawa ke Pulau Jawa sekitar tahun 1600. Perbedaan di antara keduanya, bangsa mana yang membawa tembakau ke Nusantara. Jika Raffles berpendapat Belandalah yang membawa tembakau ke Nusantara, De Condolle berpendapat Portugislah yang membawanya ke sini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Perkiraan tahun masuknya tembakau ke Nusantara dan dimanfaatkan untuk konsumsi dalam bentuk rokok yang diisap pada periode awal 1600an, diperkuat oleh keterangan dalam naskah berbahasa Jawa berjudul Babad Ing Sangkala<\/em>. Dalam naskah ini terdapat keterangan bahwa tembakau telah masuk ke Pulau Jawa dan dikonsumsi dalam bentuk rokok yang diisap bersamaan dengan wafatnya Panembahan Senapati, Bapak dari Sultan Agung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Teks yang menerangkan itu tertulis:<\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kala seda Panembahan syargi ing Kajenar pan anunggal warsa purwa sata sawiyose milaning wong ngaudud<\/em>. (Artinya: Waktu mendiang Panembahan meninggal di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau setelah itu mulailah orang merokok).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Penulis naskah Babad Ing Sangkala memperingati kedua peristiwa tersebut dengan candra sengkala Gni Mati Tumibeng Siti<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau tahun 1601-1602 Masehi. Akan tetapi naskah ini tidak menuliskan siapa yang membawa dan mengenalkan tembakau kepada penduduk Nusantara. Apakah Portugis, atau Belanda? Tidak ada keterangan di dalamnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tidak berselang terlalu lama setelah keterangan awal mula tembakau masuk Nusantara, pada 1626, tembakau sudah mulai umum dikonsumsi sebagai produk rokok<\/a> yang diisap. Pada tahun itu pula VOC mengeluarkan undang-undang impor dan penjualan tembakau di Nusantara. Setelah fase impor tersebut, Nusantara lantas menjelma menjadi salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia dan produk tembakau mulai diekspor ke luar Nusantara oleh VOC kemudian dilanjutkan oleh Belanda usai keruntuhan VOC.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Referensi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hikayat Kretek, Amen Budiman dan Onghokham, KPG, Cetakan Pertama, April 2016.<\/em><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5677","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5665,"post_author":"919","post_date":"2019-04-28 10:13:50","post_date_gmt":"2019-04-28 03:13:50","post_content":"\n

Sebuah produk tentu membutuhkan strategi pemasaran yang apik agar bisa laku di pasaran. Salah satu dari strategi pemasaran tersebut adalah memuat iklan baik itu di layar kaca, media cetak, daring, hingga media sosial. Banyaknya produk yang berseliweran di kehidupan kita, berbanding lurus dengan ramainya iklan yang kita lihat sehari-hari. Bukan hanya melalui media, sepanjang jalan juga rupa-rupa baliho, pamflet, dan banner tentu akan anda temui.
<\/p>\n\n\n\n

Bicara soal iklan, marketing sebuah produk dituntut sekreatif mungkin untuk memasarkannya. Soal iklan yang memancing tangisan air mata, jangan ragukan iklan-iklan asuransi dari Thailand, terbukti memang ahlinya. Bagaimana di tanah air? Kini menjamur iklan dengan tema ala 90an, meski bisa dibilang Telkom Indonesia menjadi yang duluan mempopulerkannya pada 2008 lalu. Jangan lupa, tren ibu-ibu kasidahan juga sempat jadi tren saat iklan Ramayana sukses menjadi popular.<\/p>\n\n\n\n

Baca:
Gofar Hilman, Perokok Keren dari Jakarta Selatan <\/a><\/p>\n\n\n\n

Salah satu produk yang bisa dikatakan kasihan, alias tak bisa menunjukkan barangnya langsung dalam iklan ya cuman rokok. Peraturan Pemerintah 109 tahun 2012 membatasi rokok tampil dalam iklan produk hasil tembakau tersebut, begitu juga dengan aktivitas merokok didalamnya. Bahkan setelah mengalami revisi, iklan rokok juga semakin dipersulit dengan tak boleh tayang di jam-jam tertentu, alasannya agar tak dilihat dan menambah jumlah perokok muda. Hmm ada-ada saja.
<\/p>\n\n\n\n

Maka praktis iklan rokok yang kita saksikan sehari-hari hanya tayang di televisi di atas jam 21.30 - 05.00. Sungguh sangat diskriminatif mengingat sudah tak boleh memperlihatkan produknya, jam tayangnya diatur, namun keuntungannya hasil tembakau masih menjadi salah satu pemasukan besar di negeri ini, ironi bukan? Coba bayangkan jika produk perumahan yang dibuat demikian? Hihihi.
<\/p>\n\n\n\n

Kalau kata penemu bela diri wing chun, Ip Man, berlatih di ruangan sempit justru membuat seseorang semakin lihai dalam bertarung karena tak punya opsi untuk melarikan diri dan bergerak, sebaliknya dengan ruangan besar. Nampaknya teori tersebut juga bisa disematkan dengan kondisi periklanan rokok saat ini. Saking rumitnya, iklan rokok justru sangat kreatif dalam memasarkan produknya, isinya mulai dari sekelompok orang yang sedang berpetualang di alam bebas, hingga dagelan-dagelan tetang kondisi negeri ini yang sangat menggelitik.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bicara soal dagelan tentu iklan Djarum 76 ahlinya! Tokoh yang paling kuat dalam karakter tersebut adalah sosok mbah jin yang justru menggunakan pakaian adat jawa. Ketika ia hadir maka ia selalu memberi tiga permintaan kepada bosnya. Nah, dalam iklan Djarum 76 yang terbaru, ada satu sosok yang mencuri perhatian dan kini tengah naik daun. Sosok tersebut bernama Angela Lorenza, model yang berperan sebagai sekretaris cantik.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang membuat iklan Djarum 76 terbaru ini naik daun? tentu salah satunya kehadiran Angela Lorenza dengan goyangannya. Diceritakan, seorang caleg yang baru jadi meminta mbah jin untuk memberinya musik, setelah diberi si sekretaris cantik tersebut langsung bergoyang gemulai disampingnya. Goyangannya cukup menghipnotis si caleg dan mbah jin. Goyangan ini juga yang membuat iklan ini viral dan bahkan dijadikan berbagai meme. Bahkan ada yang bilang, goyangan ini bisa mempersatukan bangsa kita yang sedang terpecah belah akibat pemilihan presiden.
<\/p>\n\n\n\n

Angela Lorenza juga mendadak naik daun gara-gara iklan ini, follower di instagramnya kini sudah menyentuh angka satu juta! Bahkan insta story-nya juga penuh diisi gambar-gambar fanmade dirinya yang tengah menjadi sekretaris cantik di iklan tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mau dicermati lebih dalam sebenarnya iklan Djarum 76 ini mengandung pesan terselubung yang sangat positif. Saat si sekretaris cantik asyik berjoget, mbah jin menawarkan permintaan selanjutnya dan jawaban si caleg adalah \u2018engga, ini ajah (musik)\u2019 serta dijawab \u2018cerdassss\u2019 oleh mbah jin. Paham maksudnya? Beberapa pihak berasumsi bahwa si caleg berpikiran cerdas karena tak meminta sekretaris cantik tersebut. Jika meminta tentu ini menjadi kebiasaan yang buruk karena beberapa tokoh elit kerap menjadikan perempuan sebagai objek pemuas nafsu mereka. Namun kali ini, iklan Djarum 76 menunjukkan dengan musik dan joget semua permasalahan bisa teratasi.
<\/p>\n\n\n\n

Sudahkah anda melihat iklannya? Jika sudah coba beri tafsiran anda pada kolom komentar di bawah! Hehehehe.  
<\/p>\n","post_title":"Iklan Djarum 76 dan Goyangan Sekretaris Cantik yang Tengah Naik Daun","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"iklan-djarum-76-dan-goyangan-sekretaris-cantik-yang-tengah-naik-daun","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-28 10:13:56","post_modified_gmt":"2019-04-28 03:13:56","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5665","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":41},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};