\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejauh ini kondisi negeri ini masih kondusif pasca pemilu, sedikit riak-riak kecil tentu saja ada, namun itu masih dalam batas toleransi dan saya percaya pihak-pihak berwenang bisa lekas mengatasi. Hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survey menyebut petahana, Pak Jokowi, yang kali ini berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memenangkan pemilihan presiden dengan selisih perolehan suara berkisar antara 8 dan 10 persen dengan pasangan Prabowo-Sandi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sehari lalu, mayoritas warga Indonesia merayakan pesta demokrasi lewat partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Selain pemilihan presiden, pemilihan anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten\/Kotamadya, dan DPD dilakukan serentak dalam satu waktu. <\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini kondisi negeri ini masih kondusif pasca pemilu, sedikit riak-riak kecil tentu saja ada, namun itu masih dalam batas toleransi dan saya percaya pihak-pihak berwenang bisa lekas mengatasi. Hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survey menyebut petahana, Pak Jokowi, yang kali ini berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memenangkan pemilihan presiden dengan selisih perolehan suara berkisar antara 8 dan 10 persen dengan pasangan Prabowo-Sandi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan didiami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut. Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung pada umumnya sebagai penghasil tembakau terbaik sedunia.
<\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-19 08:32:58","post_modified_gmt":"2019-04-19 01:32:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5646","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5643,"post_author":"878","post_date":"2019-04-18 10:10:47","post_date_gmt":"2019-04-18 03:10:47","post_content":"\n

Sehari lalu, mayoritas warga Indonesia merayakan pesta demokrasi lewat partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Selain pemilihan presiden, pemilihan anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten\/Kotamadya, dan DPD dilakukan serentak dalam satu waktu. <\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini kondisi negeri ini masih kondusif pasca pemilu, sedikit riak-riak kecil tentu saja ada, namun itu masih dalam batas toleransi dan saya percaya pihak-pihak berwenang bisa lekas mengatasi. Hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survey menyebut petahana, Pak Jokowi, yang kali ini berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memenangkan pemilihan presiden dengan selisih perolehan suara berkisar antara 8 dan 10 persen dengan pasangan Prabowo-Sandi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Temanggung terdapat pasar tembakau yang terkenal saat panen raya, yaitu pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota. Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n

Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan didiami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut. Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung pada umumnya sebagai penghasil tembakau terbaik sedunia.
<\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-19 08:32:58","post_modified_gmt":"2019-04-19 01:32:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5646","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5643,"post_author":"878","post_date":"2019-04-18 10:10:47","post_date_gmt":"2019-04-18 03:10:47","post_content":"\n

Sehari lalu, mayoritas warga Indonesia merayakan pesta demokrasi lewat partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Selain pemilihan presiden, pemilihan anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten\/Kotamadya, dan DPD dilakukan serentak dalam satu waktu. <\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini kondisi negeri ini masih kondusif pasca pemilu, sedikit riak-riak kecil tentu saja ada, namun itu masih dalam batas toleransi dan saya percaya pihak-pihak berwenang bisa lekas mengatasi. Hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survey menyebut petahana, Pak Jokowi, yang kali ini berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memenangkan pemilihan presiden dengan selisih perolehan suara berkisar antara 8 dan 10 persen dengan pasangan Prabowo-Sandi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta  \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil<\/em>). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (sang Pencipta).<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung terdapat pasar tembakau yang terkenal saat panen raya, yaitu pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota. Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n

Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan didiami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut. Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung pada umumnya sebagai penghasil tembakau terbaik sedunia.
<\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-19 08:32:58","post_modified_gmt":"2019-04-19 01:32:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5646","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5643,"post_author":"878","post_date":"2019-04-18 10:10:47","post_date_gmt":"2019-04-18 03:10:47","post_content":"\n

Sehari lalu, mayoritas warga Indonesia merayakan pesta demokrasi lewat partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Selain pemilihan presiden, pemilihan anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten\/Kotamadya, dan DPD dilakukan serentak dalam satu waktu. <\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini kondisi negeri ini masih kondusif pasca pemilu, sedikit riak-riak kecil tentu saja ada, namun itu masih dalam batas toleransi dan saya percaya pihak-pihak berwenang bisa lekas mengatasi. Hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survey menyebut petahana, Pak Jokowi, yang kali ini berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memenangkan pemilihan presiden dengan selisih perolehan suara berkisar antara 8 dan 10 persen dengan pasangan Prabowo-Sandi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada saat awal musim tanam tembakau, masyarakat Temanggung melalukan ritual Among Tebal yang dilaksanakan dipagi hari, sebagai bentuk permintaan kepada sang Pencipta dengan berwasilah (perantara) kepada Ki Ageng Makukuhan nama lain Syeikh Maulana Taqwim.  Tradisi lain yang dilaksanakan awal musim panen adalah Wiwitan, yang dilakukan saat datangnya senja. Dalam upacara wiwitan dipimpin oleh kaum atau kaur agama. Prosesi pelaksanaan upacara wiwitan dimulai dari pemukiman penduduk menuju ladang tembakau dengan membawa tumpeng, ketan, salak dan daging ayam tolak (cemani). Baik Among Tebal atau Wiwitan agenda acaranya adalah mengirim do\u2019a kepada leluhur, terlebih mendo\u2019akan Ki Ageng Makukuhan, dengan bacaan al-Fatikhah dan do\u2019a bersama. Sebagai masyarakat NU, mereka meyakini dengan mendo\u2019akan leluhur dan berwasilah kepadanya, mengharap keridloan Tuhan untuk memberkahi tanamannya.<\/p>\n\n\n\n

Tanaman tembakau bagi warga NU di Temanggung telah menjadi identitas (jati diri) dan mendarah daging. Tembakau selain punya nilai ekonomi, juga terdapat nilai kepatuhan terhadap Ki Ageng Makukuhan (konon yang membawa tembakau ke Temanggung). Mereka (masyarakat) meyakini dengan menanam tembakau hidupnya sejahtera berkat berkah Ki Ageng Makukuhan. Diceritakan, untuk mendapatkan hasil kualitas tembakau yang baik,mereka rela untuk melakukan ritual dan ibadah tengah malam di tengah ladang tembakau menunggu dan meminta  \u201crigen\u201d atau \u201cdaru rigen\u201d, semacam cahaya yang memancar secara tiba-tiba dari atas, menuju sasaran ladang tembakau yang nantinya menjadi tembakau kualitas terbaik (srinthil<\/em>). Diyakini sinar tersebut dari Sang Kholik (sang Pencipta).<\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung terdapat pasar tembakau yang terkenal saat panen raya, yaitu pasar Parakan. Letaknya arah utara dari Ibu kota Temanggung, tepatnya di persimpangan jalan menuju Kabupaten Wonosobo dan Menuju Kabupaten Kendal. Pasar paraan saat panen tembakau sangat ramai dikunjungi oleh pedagang tembakau lokal maupun dari luar kota. Di sebelah timur pasar Paraan inilah dahulu lahir Ulama\u2019 NU yang masyhur dengan sebutan Kiai Bambu Runcing atau Mbah Paraan. Nama aslinya Kiai Subkhi, beliau terkenal sebagai pembuat satu-satunya alat perang terbuat dari bambu yang diruncingkan ujungnya dan diyakini keampuhannya, dalam melawan penjajahan di bumi Nusantara. Masa penjajahan Kiai Subkhi sangat terkenal dikalangan Kiai-kiai NU, karena hampir di penjuru Nusantara tersebar bambu runcing buatannya. Seperti halnya barisan Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan KH. Masykur, tidak ketinggalan pula Laskar Bung Tomo, Laskar dr. Muwardi, laskar Ir Sakirman, laskar Pesindo bahkan KH. A. Wakhid Hasyim dan KH. Zainul Arifin. <\/p>\n\n\n\n

Kiai Subkhi (kiai bambu runcing) adalah salah satu anggota prajurit Pangeran Diponegora, yang berjuang dan menetap di Paraan dahulu sebagai kota Kawedanan. Rumah singgah Kiai Subkhi sampai sekarang masih ada dan didiami oleh keturunannya. Sumur Kiai Subkhi yang konon dipergunakan untuk mencuci bambu runcing sudah ditutup keluarganya, dengan alasan menghindari kemusyrikan. Karena sepeninggal Kiai Subkhi banyak orang yang berbondong-bondong minta berkah air sumur tersebut. Sampai sekarang paraan terkenal sebagai pasar tembakau terbesar dan kampung bambu runcing, dan di kabupaten Temanggung pada umumnya sebagai penghasil tembakau terbaik sedunia.
<\/p>\n","post_title":"Budaya dan Tradisi Masyarakat Petani NU di Kabupaten Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-dan-tradisi-masyarakat-petani-nu-di-kabupaten-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-19 08:32:58","post_modified_gmt":"2019-04-19 01:32:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5646","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5643,"post_author":"878","post_date":"2019-04-18 10:10:47","post_date_gmt":"2019-04-18 03:10:47","post_content":"\n

Sehari lalu, mayoritas warga Indonesia merayakan pesta demokrasi lewat partisipasi mereka dalam pemilihan umum. Selain pemilihan presiden, pemilihan anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten\/Kotamadya, dan DPD dilakukan serentak dalam satu waktu. <\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini kondisi negeri ini masih kondusif pasca pemilu, sedikit riak-riak kecil tentu saja ada, namun itu masih dalam batas toleransi dan saya percaya pihak-pihak berwenang bisa lekas mengatasi. Hasil perhitungan cepat yang dikeluarkan beberapa lembaga survey menyebut petahana, Pak Jokowi, yang kali ini berpasangan dengan KH Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, memenangkan pemilihan presiden dengan selisih perolehan suara berkisar antara 8 dan 10 persen dengan pasangan Prabowo-Sandi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain terpilihnya pasangan presiden-wakil presiden baru, komposisi anggota DPR tingkat nasional hingga tingkat daerah juga baru. Beberapa anggota dewan lama yang terpilih lagi tentu saja ada, namun tentu ada pula yang baru.<\/p>\n\n\n\n

Baik itu pemilihan presiden, juga anggota dewan nasional hingga daerah, sudah barang tentu akan berpengaruh terhadap nasib industri rokok kretek ke depannya. Ini tentu juga akan sangat berpengaruh terhadap nasib petani tembakau, petani cengkeh, para buruh linting, pekerja pabrik, sales dari perusahaan rokok, para pedagang grosir dan eceran, serta beberapa elemen lain yang terkait erat dengan industri rokok kretek dan sektor pertanian yang mendukungnya.<\/p>\n\n\n\n

Sepengamatan kami, dari dua pasang capres-cawapres, tak ada nada positif dari keduanya terkait nasib industri hasil tembakau dan sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Keduanya mengeluarkan pernyataan yang cukup mengecewakan terkait IHT (seingat saya ada tulisan dalam bolehmerokok.com yang membahas ini). Ini tentu saja cukup mengkhawatirkan. Karena siapapun yang menang, IHT di negeri ini sangat mungkin mengalami kemunduran.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara<\/a><\/p>\n\n\n\n

Selain pengaruh dari presiden baru, komposisi anggota dewan baru juga akan cukup berpengaruh terhadap nasib Industri Hasil Tembakau dan Pertanian Tembakau dan Cengkeh serta turunannya. Bagaimanapun juga, mereka berwenang mengeluarkan undang-undang yang salah satunya undang-undang perihal pertembakauan dan turunannya.<\/p>\n\n\n\n

Sepemantauan kami, tak banyak caleg yang membicarakan sektor ini dalam kampanye-kampanye mereka. Bukan tidak ada sama sekali. Ada. Namun sedikit sekali. Dari yang sedikit itu, mayoritasnya juga mengeluarkan nada serupa dengan capres-cawapres dalam kampanyenya.<\/p>\n\n\n\n

Setidaknya, ada tiga ancaman besar yang bisa menggerus IHT bahkan hingga sampai membunuhnya. Ketiga ancaman tersebut saya ambil dari sekian banyak ancaman jika pernyataan-pernyataan capres-cawapres dan beberapa caleg benar-benar direalisasikan.<\/p>\n\n\n\n

Menaikkan Cukai Rokok<\/h2>\n\n\n\n

Isu-isu perihal dampak buruk bagi kesehatan dari konsumsi rokok berimplikasi terhadap rencana pemerintah untuk terus menaikkan cukai produk rokok. Alasannya, semakin mahal harga rokok, semakin sedikit orang bisa membeli rokok. Asumsi ini membawa mereka beranggapan bahwa konsumen rokok akan semakin berkurang. Padahal tentu saja tidak semudah itu.<\/p>\n\n\n\n

Naiknya cukai rokok alih-alih menekan jumlah konsumen rokok malah bisa menjadi bola salju yang membesarkan peredaran rokok ilegal. Bukannya konsumen rokok berkurang, pemasukan pemerintah dari cukai rokok yang akan berkurang karena banyaknya rokok ilegal yang beredar. Selain itu, kenaikan cukai juga akan mengganggu stabilitas pabrikan rokok legal yang selama ini banyak menyumbang pemasukan yang tidak sedikit bagi negara.<\/p>\n\n\n\n

Undang-Undang Pertembakauan yang Merugikan<\/h2>\n\n\n\n

Di tingkat legislatif, bukan tak mungkin suara-suara miring yang terus dihembuskan kepada produk rokok memaksa mereka mengeluarkan undang-undang yang merugikan industri hasil tembakau dan sektor pertanian yang menyokong industri itu. Tidak semudah itu memang karena faktor ekonomi, sosial, dan budaya akan jadi pertimbangan karena IHT terutama produk rokok kreteknya sudah merasuk dalam pada tiga faktor tersebut. Namun jika tidak dikawal dengan baik dan tekun, sangat mungkin undang-undang yang merugikan IHT bisa mereka produksi.<\/p>\n\n\n\n

Ratifikasi FCTC <\/h2>\n\n\n\n

Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) atau Konvensi Kerangka Kerja untuk Pengendalian Tembakau adalah perjanjian internasional yang diinisiasi WHO dan mulai berlaku sejak Februari 2005. Isi perjanjian internasional ini, sesuai namanya tentu saja untuk pengendalian industri hasil tembakau. Lebih dari 160 negara telah meratifikasi perjanjian internasional ini. Sejauh ini, baik masa pemerintahan SBY, juga pemerintahan Jokowi, Indonesia belum meratifikasi FCTC. Dan ini bagus bagi industri rokok kretek di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Mengapa bagus? Karena penolakan pemerintah meratifikasi FCTC menyelamatkan rokok kretek kebanggaan Nusantara. Salah satu poin dalam FCTC adalah penghilangan unsur aromatik dalam sebuah produk rokok. Dengan kata lain, jika Indonesia meratifikasi FCTC, cengkeh dan beberapa saus dalam rokok kretek, harus ditiadakan. Hanya tembakau yang diperbolehkan. Itupun tembakau jenis tertentu dan terbatas, dibatasi kandungan nikotin dan TAR dan beberapa indikator lainnya. Jadi tidak semua tembakau di yang ditanam petani lokal bisa digunakan.<\/p>\n\n\n\n

Jika Indonesia meratifikasi FCTC, akan berdampak sangat jauh, musnahnya produk rokok kretek di pasar legal karena larangan kandungan cengkeh dalam sebatang produk rokok. Tanpa cengkeh, tak ada rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Bagi saya, ini akan sangat mengerikan. Karena pertanian cengkeh dalam negeri akan porak-poranda hancur berantakan. Karena sejauh ini lebih dari 90 persen hasil pertanian cengkeh diserap oleh industri rokok kretek. Jika FCTC diratifikasi, gejolak sosial yang terjadi di seluruh negeri akan lebih dahsyat dibanding gejolak sosial yang terjadi pada periode 90an ketika pertanian cengkeh diganggu monopoli BPPC.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada tanda-tanda Indonesia akan meratifikasi FCTC, dan semoga ini akan terus bertahan. Namun, melihat pernyataan dua pasang capres-cawapres, juga beberapa caleg, ditambah kampanye masif mereka yang mengklaim diri anti-rokok, kita patut mengkhawatirkan terjadinya ratifikasi FCTC ini. Sekali lagi, semoga tidak terjadi. Dan jika itu terjadi, saya mengajak Anda semua yang membaca tulisan ini, mari bersama-sama kita lawan. Demi kedaulatan petani Indonesia!<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-pasca-pemilihan-umum","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-18 10:10:55","post_modified_gmt":"2019-04-18 03:10:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5643","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5640,"post_author":"919","post_date":"2019-04-17 06:00:51","post_date_gmt":"2019-04-16 23:00:51","post_content":"\n

Winter is coming! Setelah beberapa tahun terahir para fans setia Game of Thrones menanti, kini serial kenamaan keluaran HBO yang sudah menginjak season ke-8 tersebut sudah bisa dinikmati. Senin kemarin (15\/4\/2019), episode pertama dari season terakhir tersebut sudah mulai ditayangkan, responnya beragam. Ada yang gembira, terkejut, dan tak sedikit yang kecewa.
<\/p>\n\n\n\n

Serial Game of Thrones bisa dikatakan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Di awal kehadirannya, serial yang mengadaptasi buku novel berjudul A Song of Ice and Fire karya George RR Martin itu diragukan bakan mendulang kesuksesan. Namun kisah yang berkembang serta kompleksitas konflik didalamnya membuat Game of Thrones nampak hidup dan sukses diterima masyarakat luas.
<\/p>\n\n\n\n

Bukan hanya cerita dan latar belakang menarik yang ditampilkan di film tersebut. Film ini juga memanjakan mata anda yang menggemari karya kolosal dan dengan paduan Computer-Generated Imagery (CGI) yang canggih. Serial ini juga dilengkapi dengan tokoh yang menghayati perannya secara luar biasa, meski sebelum film ini dibuat diantaranya bukan merupakan figur yang popular di kalangan publik.
<\/p>\n\n\n\n

Tahukah kalian, bahwa beberapa pemeran serial Game of Thrones ternyata seorang perokok lho! Mereka bahkan tak malu-malu untuk menunjukkan aktivitas kegemaran tersebut di muka publik. Meski dalam film yang mereka mainkan tidak pernah ada adegan merokok. Wajar saja sih karena latar belakang fim tersebut diambil pada sekitar 1400an. Berikut tiga tokoh dalam film Game of Thrones yang juga seorang perokok<\/a>.
<\/p>\n\n\n\n

Kit Harington (Jon Snow)<\/h2>\n\n\n\n

Bisa dikatakan Kit Harington yang memainkan peran sebagai Jon Snow merupakan salah satu tokoh utama dalam serial Game of Thrones. Perannya dalam serial itu cukup sentral, bukan hanya mengembalikan semangat dan kejayaan keluarganya (House Stark), ia juga sukses meredamkan perang antar house di Seven Kingdom, meski harus bertekuk lutut di hadapan Daenerys Targaryen.
<\/p>\n\n\n\n

Jon Snow juga berperan penting dalam memimpin umat manusia melawan musuh dari tempat antah berantah yaitu Night King beserta pasukannya yaitu White Walkers. Jon Snow sangat handal memainkan perannya di film tersebut, mungkin faktor rokok yang membuatnya rileks membantunya dalam hal tersebut.
<\/p>\n\n\n\n

Aiden Gillen (Petyr Baelish)<\/h2>\n\n\n\n

Jika kebanyakan penonton Game of Thrones memuja-muja sosok Jon Snow, sebaliknya Petyr Baelish yang diperankan oleh Aiden Gillen menjadi seseorang yang tidak disukai. Petyr Baelish bukan seorang ksatria yang lihai mengangkat pedang serta bertarung, namun keahlian utamanya adalah strategi politik, propaganda, serta memecah belah.
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak akan melihat kelihaian Aiden Gillen memainkan peran Petyr Baelish di season 8 ini, karena di season sebelumnya sosoknya mati di tangan Arya Stark. Di sisi lain, meski juga tak pernah melihat dirinya merokok di serial Game of Thrones, di kesehariannya, ia dalah perokok dan bahkan ia juga berakting sebagai perokok dalam film Blackout.
<\/p>\n\n\n\n

Sophie Turner (Sansa Stark)<\/h2>\n\n\n\n

Dari sekian banyak tokoh perempuan dalam Game of Thrones, boleh dibilang Sophie Turner yang berperan sebagai Sansa Stark adalah salah satu yang tercantik. Kecantikannya memang sudah telihat sejak season pertama, meski sejak meninggalkan Winterfel yang merupakan markas dari House Stark, kehidupannya penuh dengan kisah yang pahit.
<\/p>\n\n\n\n

Dari berbagai pengalaman tak menyenangkan tersebut justru menjadikan sosok Sansa Stark sebagai seseorang yang tangguh. Ketika ia beruntung dan berhasil pulang ke Winterfel, dirinya langsung diangkat sebagai Lady of Winterfell, meski bukan menjadi istri bagi King of The North yaitu Jon Snow. Walaupun seorang perempuan, Sophie Turner dalam kesehariannya adalah seorang perokok, tak ada stigma buruk kepadanya dan justru pujian karena bermain peran dengan sangat baik di Game of Thrones.
<\/p>\n","post_title":"Tiga Perokok dalam Serial Game Of Thrones","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tiga-perokok-dalam-serial-game-of-thrones","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-17 01:10:01","post_modified_gmt":"2019-04-16 18:10:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5640","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5631,"post_author":"883","post_date":"2019-04-13 09:12:10","post_date_gmt":"2019-04-13 02:12:10","post_content":"\n

Tembakau dan produk tembakau memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ekonomi dan perdagangan dunia. Komoditi tembakau merupakan bisnis besar dalam perdagangan internasional. Industri ini berperan besar dalam menyediakan kesempatan kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat dunia. Tak hanya itu, industri tembakau dan rokok telah memberikan sumbangan besar terhadap pendapatan negara, baik negara maju maupun negara berkembang.
<\/p>\n\n\n\n

Secara keseluruhan pasar tembakau global bernilai 378 milyar dollar AS, dan bertumbuh sebesar 4,6 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 milyar dollar AS.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebuah negara, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi.
<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau dan industri rokok telah lama berkembang pesat dan tersebar hampir merata di seluruh penjuru dunia. Perkembangan kinerja industri ini ditunjukkan oleh perkembangan dalam produksi dan konsumsi tembakau maupun rokok dalam rentang waktu 50-an tahun terakhir.
<\/p>\n\n\n\n

Berdasarkan data di tahun 1960-2017 produksi daun tembakau dunia meningkat dari rata-rata 3,57 juta ton menjadi 6,33 juta ton per tahun atau tumbuh rata-rata sebesar 1,21 persen per tahun. Sejalan dengan itu, produksi rokok dalam kurun waktu yang sama juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,72 persen per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Beberapa Manfaat Tembakau Selain untuk Bahan Baku Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tahun 2008 China tumbuh dan menguasai lebih dari 40 persen pasar tembakau dunia, tetapi hanya 5 persen dari daun tembakau China yang diekspor. Bersama Brasil dan India, China memproduksi sebagian besar daun tembakau di dunia, menyalip mantan produsen pertama seperti AS.
<\/p>\n\n\n\n

AS sendiri telah mengalami penurunan volume ekspor rokok sebesar 50 persen sejak tahun 1996, meskipun nilainya masih tetap tinggi, yakni senilai 1,2 milyar dollar AS pada tahun 2006. Pasar ekspor rokok AS adalah Jepang. Adapun negara-negara maju lainnya yaitu Belanda dan Jerman masing-masing mengakumulasi ekspor senilai lebih dari 3 milyar dollar AS rokok per tahun.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Menurut data FAO di tahun 2003, Indonesia menempati posisi ke 8 sebagai negara produsen tembakau terbesar di dunia. FAO juga memprediksi bahwa Indonesia akan mengalami penurunan produksi dalam 10-20 tahun ke depan. <\/strong>
<\/p>\n\n\n\n

Sementara negara-negara lainnya khususnya lima besar produsen global akan terus bertambah angka produksinya. Hal ini terjadi mengingat tingginya permintaan tembakau di pasar global. Tentu permintaan tembakau di pasar global ini selaras dengan meningkatnya angka perokok di dunia.
<\/p>\n\n\n\n

Cukup aneh rasanya jika Indonesia justru diprediksi akan mengalami penurunan produksi tembakau. Tapi juga cukup logis terjadi jika melihat kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT) kita akhir-akhir ini. Berbagai macam kebijakan yang tidak berpihak, kampanye anti-tembakau yang kian massif, menjadi landasan kuat menurunnya ketahanan IHT di Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Indonesia dalam Kancah Perdagangan Tembakau Dunia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-dalam-kancah-perdagangan-tembakau-dunia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-13 09:12:16","post_modified_gmt":"2019-04-13 02:12:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5631","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5627,"post_author":"878","post_date":"2019-04-12 05:57:17","post_date_gmt":"2019-04-11 22:57:17","post_content":"\n

Sistem dalam otak saya langsung bekerja mengais ingatan dan kesan saya ketika membaca Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) karya Pramoedya Ananta Toer dulu ketika saya membaca lembar demi lembar novel berjudul Sang Raja karya Iksaka Banu beberapa hari lalu. Saya menemukan beberapa kesamaan pada keduanya. Tokoh utama dalam tetralogi buru sama-sama pribumi yang terkait dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika Tirto Adhi Soerjo (Minke dalam Tetralogi Buru) turut berjuang lewat tulisan-tulisannya, Nitisemito dalam Sang Raja lewat usaha pabrik rokoknya.<\/p>\n\n\n\n

Kesamaan selanjutnya, latar dalam Tetralogi Buru dan Sang Raja berada pada waktu yang bersamaan. Minke aktif menulis pada periode 1910an dan pada periode itu pula Nitisemito mengembangkan bisnis rokok kreteknya lewat NV. Nitisemito dengan produk rokok bermerek Tjap Bal Tiga. Mereka pernah hidup pada periode yang sama, berjuang pada periode yang sama, hingga akhirnya Minke mati muda sedang Nitisemito hidup lama hingga memasuki usia senja. Ia sempat merasakan kemerdekaan Indonesia sebelum wafat pada 1953. Tak lama setelah Ia wafat, usaha rokok kreteknya gulung tikar. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi (1)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka, bukan tidak mungkin keduanya pernah berinteraksi. Baik itu lewat pertemuan langsung, atau perjumpaan-perjumpaan lewat perantara. Bisa jadi rokok kretek favorit Minke yang sehari-hari ia isap adalah rokok kretek yang saus dan racikannya dibikin oleh Nitisemito dan istrinya, Nasilah. Bukan tidak mungkin Nitisemito pernah membaca tulisan-tulisan Minke, meskipun banyak yang mengatakan Nitisemito buta aksara, jika itu benar setidaknya orang-orang di sekelilingnya pernah menceritakan tulisan-tulisan Minke kepadanya.<\/p>\n\n\n\n

Masih ada beberapa hal lagi yang mengajak saya kembali mengingat Tetralogi Buru saat membaca novel Sang Raja. Namun saya bukan hendak menuliskan itu saat ini. Saya juga bukan hendak menulis rehal buku Sang Raja di sini. Bukan. Bukan itu semua. Pada kesempatan lain mungkin. <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Seperti juga Tetralogi Buru, novel Sang Raja adalah karya fiksi. Namun keduanya ditulis dengan basis data dan fakta lewat riset mendalam. Pada novel Sang Raja, saya menemukan fakta menarik yang membawa saya melakukan riset mini terkait daya tahan industri rokok kretek dalam negeri menghadapi guncangan krisis ekonomi dalam rentetan waktu yang panjang. Saya hendak membagikan itu dalam tulisan ini.<\/p>\n\n\n\n

Merek rokok kretek Tjap Bal Tiga mulai beredar di pasaran sesaat sebelum Perang Dunia I berkecamuk. Meskipun medan laga dominan di daratan Eropa, dampak tak langsung terasa hingga Nusantara, yang oleh penjajah diberi nama Hindia Belanda. Kondisi ekonomi global terganggu, perdagangan global dan lokal tersendat, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, usaha-usaha yang dikelola pemerintah kolonial, pengusaha keturunan Cina, keturunan Arab, dan pribumi, banyak yang terganggu. Namun tidak begitu dengan usaha rokok kretek yang kebanyakan dikelola pribumi atau keturunan Cina. Usaha rokok kretek seakan menjadi anomali ketika itu. Tidak semua memang, tapi sebagian besar begitu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kami, Jokowi dan Prabowo pada Suatu Pagi di Ladang Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada wilayah Kudus saja, ada lebih lima usaha rokok kretek yang mampu bertahan bahkan tetap meraih keuntungan ketika krisis ekonomi akibat Perang Dunia I terjadi. Yang paling menonjol, tentu saja merek dagang Tjap Bal Tiga milik Nitisemito. Pada puncak Perang Dunia I usaha rokok kretek miliknya malah berkembang pesat. Usaha rokok kretek Tjap Bal Tiga terus berkembang hingga periode 20an akhir, hingga kemudian masa-masa depresi ekonomi melanda Amerika Serikat pada periode 30an awal hingga berdampak pada perekonomian dunia.<\/p>\n\n\n\n

Lagi-lagi dunia usaha terkena dampak buruk akibat depresi ekonomi ini. Tak terkecuali dunia usaha di dalam negeri. Dan lagi-lagi, usaha rokok kretek berhasil melalui masa krisis ini dengan tetap berhasil mempertahankan lini usaha mereka. Dan sekali lagi, lagi-lagi saya mesti mengambil contoh kiprah Nitisemito dan Tjap Bal Tiga miliknya. Depresi ekonomi pada periode 30an pada awalnya juga mengganggu usaha rokok kretek di Kudus dan beberapa kota lain di Pulau Jawa. Beberapa pabrikan rokok yang sebelumnya menggunakan cengkeh unggul yang diimpor dari Zanzibar, mengganti cengkeh mereka dengan kualitas tidak sebaik sebelumnya. Harga cengkeh melonjak ketika itu.<\/p>\n\n\n\n

Namun Nitisemito tetap memilih menggunakan cengkeh kualitas unggul dengan risiko biaya pembelian cengkeh lebih besar hingga akhirnya Nitisemito menaikkan harga rokok Tjap Bal Tiga.<\/strong> Ia tetap berusaha mengutamakan mempertahankan kualitas produk dibanding menekan biaya produksi.<\/p>\n\n\n\n

Pada periode ini pula NV. Nitisemito mengalami puncak kejayaannya. Produksi rokok kretek mereka ketika itu per hari mencapai satu juta batang dengan mempekerjakan antara 10.000 hingga 15.000 tenaga kerja. Bukan angka yang kecil ketika itu. Industri rokok kretek berhasil membuka lapangan kerja besar di wilayah yang jauh dari ibukota.<\/p>\n\n\n\n

Pada Perang Dunia II, Tjap Bal Tiga memang sempat berhenti berproduksi, terutama setelah Jepang menyita aset-aset milik NV. Nitisemito. Namun tak lama setelah Perang Dunia II usai, produksi rokok kretek kembali berjalan dan perlahan-lahan bangkit kembali.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Gangguan besar terhadap industri kretek dalam negeri sebelum masa kemerdekaan adalah penetapan pajak besar yang ditetapkan oleh pemerintahan kolonial. Banyak usaha rokok kretek yan keteteran, tak terkecuali Tjap Bal Tiga. Pemerintahan kolonial mengambil begitu banyak persentase keuntungan (lebih dari 30 persen) dari industri kretek tanpa sepeserpun mengeluarkan modal. Namun begitu industri rokok kretek mampu bertahan. Pada akhirnya, untuk kasus Tjap Bal Tiga, usaha mereka gulung tikar disebabkan konflik keluarga usai Nitisemito wafat. Bukan krisis ekonomi atau pun perang dunia yang menjadi penyebabnya.<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, industri rokok kretek terus berkembang dengan pemain pabrikan-pabrikan lain milik pengusaha dalam negeri. Puncaknya, sejak periode 80an, produk rokok kretek berhasil merebut pasar dalam negeri mengalahkan produk rokok putih. <\/p>\n\n\n\n

Dan krisis ekonomi datang lagi, kali ini krisis moneter pada periode 90an akhir. Hampir seluruh bidang usaha mengalami kelesuan, bahkan tak sedikit yang kukut gulung tikar. Dan lagi-lagi, industri rokok kretek mampu bertahan menghadapi krisis. Bukan sekadar bertahan, industri rokok kretek mampu memberikan sumbangan keuangan signifikan bagi negara yang ketika itu limbung dihantam krisis moneter.<\/p>\n\n\n\n

Runtutan fakta sejarah terkait industri rokok kretek dalam negeri ini membuktikan bahwasanya negara harus berperan aktif melindungi industri rokok kretek karena sudah terbukti memberikan sumbangsih yang tidak sedikit bagi negara ini baik pada waktu normal lebih lagi ketika krisis melanda. Namun faktanya, negara seakan setengah hati melakukan itu. Malah berperan aktif melemahkan industri ini lewat peraturan-peraturan yang mereka buat. Membingungkan.
<\/p>\n","post_title":"Industri Rokok Kretek Nasional, Bertahan dalam Rentetan Panjang Krisis Ekonomi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"industri-rokok-kretek-nasional-bertahan-dalam-rentetan-panjang-krisis-ekonomi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-12 05:57:24","post_modified_gmt":"2019-04-11 22:57:24","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5627","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5621,"post_author":"877","post_date":"2019-04-10 10:37:08","post_date_gmt":"2019-04-10 03:37:08","post_content":"\n

Bahasan mengenai hukum menyulut kretek pernah dipertanyakan dalam forum bahtsul masail<\/em> (musyawarah) para Kiai\/Ulama\u2019 Kudus. Pertanyaan (saail<\/em>) yang mengajukan atas nama masyarakat Baletengahan, yaitu dukuh yang masuk wilayah Desa Langgardalem Kecamatan Kota. Tepatnya sekitar + 800an m, arah utara Masjid Menara Kudus (al-Aqsha). Kultur budaya masyarakat Baletengahan adalah santri, terdapat banyak Pesantren dan beberapa madrasah, salah satunya lembaga pendidikan formal TBS (Tasywiqut Thullab Salafiyyah), yaitu lembaga pendidikan salaf yang dahulu salah satu tempat  KH. Arwani Amin al-Hafiz mengajar dan yayasan pendidikan Nawa Kartika, yang didirikan oleh tokoh NU setempat. <\/p>\n\n\n\n

Lain halnya pesantren dan lembaga pendidikan, di sekitar Baletengahan Langgardalem, konon dahulu banyak usaha rumahan kretek. Petilasan yang masih dapat dijumpai di Langgardalem adalah \u201cgudang tembakau dan PR. Buah Cengkeh\u201d. <\/p>\n\n\n\n

Disini terlihat para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus mempunyai tradisi kritis menyikapi fenomena disekelilingnya. Sehingga wajar pada tahun 1990an muncul bahasan tentang kretek di Bahtsul Masail<\/em> para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, jauh mendahului keputusan MUI dan Muhammadiyyah hasil Padang Panjang, dilaksanakan tahun 2009-2010.<\/p>\n\n\n\n

Tradisi Bahtsul Masail biasa disebut \u201cMunadzoroh<\/em>\u201d sudah lama dilakukan para Kiai\/Ulama\u2019 NU Kudus, dengan bertempat di Masjid-masjid di sekitar Kudus, bergantian dan memutar. Peserta munadzoroh<\/em> adalah para Kiai\/Ulama\u2019 se-Kabupaten Kudus dari berbagai penjuru desa, dan juga masyarakat umum, karena sifatnya terbuka (siapa saja boleh ikut tanpa terkecuali). Pelaksanaannya dari dulu hingga sekarang dijatuhkan pada hari Ahad (minggu). <\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saat pembahasan mengenai kretek, bertempat di Masji al-Aqsho Menara Kudus yang dipimpin oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), redaksi pertanyaaannya adalah:<\/p>\n\n\n\n

\u201ckados pundi hukumipun ngkretek (bagaimana hukum menghisap kretek)?\u201d<\/em>--pertanyaan dari<\/em> Baletengahan--<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sebelum memulai pembahasan biasanya KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menanyakan tentang apa yang akan dibahas. Diceritakan oleh KH. Sya\u2019roni Ahmadi, situasi dan kondisi saat itu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah), bertanya di forum, \u00a0\u201copo iki takonane?\u201d (pertanyaannya apa), di jawab yang hadir saat itu, \u201c anu Mbah bab kretek\u201d (itu bab menghisap kretek), lalu KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) menyambung jawaban hadirin, \u201coooo, bab kretek, kretekku gowo rene dikik\u201d (ooo, bab menghisap kretek, kretekku bawa kemari dulu), kemudian KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) mengambil satu batang kretek dari bungkusnya disulut dan dihisap. Selesai menyulut kretek, kembali KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) berbicara, \u201cwes kono dibahas\u201d (sudah sana dibahas). Setelah diperintahkan untuk dibahas, suasana hening sejenak. \u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Mungkin di benak para hadirin terlintas pikiran \u201capa yang dibahas sudah dijawab secara tersirat oleh KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) dengan menghisap kretek\u201d. Pada akhirnya, pembahasan tetap dilaksanakan. Diceritakan KH. Sya\u2019roni juga, situasi saat itu tidak ada Kiai\/Ulama\u2019 yang hadir menghukumi \u201charam\u201d, pada akhirnya diputuskan KH. Turaikhan, dengan hukum \u201c boleh\u201d, disela-sela KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) memberikan penjelasan, ada salah satu hadirin mengacungkan jarinya, beliau adalah KH. Hambali (Al Maghfurlah), sambil berkata; \u201ckulo Kiai, menawi boten udud kulo mboten saget mucal\u201d (saya Kiai, kalau tidak sambil menghisap kretek, saya tidak dapat mengajar), disertai argumen dan penjelasanannya. Kemudian KH. Turaikhan, memberikan jawaban dan tanggapan kepada KH. Hambali, \u201cnek ngono, kanggo kuwi hukumi wajib\u201d (kalau begitu, untuk kamu hukumnya wajib mengkonsumsi kretek).  <\/p>\n\n\n\n

Dilihat dari putusan Bahtsul Masail di atas, pada awalnya menghisap kretek dihukumi \u201cboleh\u201d, namun dengan kondisi tertentu menjadi \u201cWajib\u201d. Cerita penetapan hukum menghisap kretek dalam forum Bahtsul Masail di atas, telah menyebar di kalangan masyarakat Kudus, dan menjadi konsumsi publik, serta bersifat mengikat sampai sekarang. Sehingga banyak Kiai\/Ulama\u2019 Kudus tidak mempersoalkan lagi, apalagi membahas kembali. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Membongkar Mitos ala Sehat Tentrem<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cerita situasi dan kondisi Bahtsul Masail, diapresiasi dan diinterpretasikan Kiai\/Ulama\u2019Kudus lebih kontekstual, salah satunya KH. Fatkhur Rahman, beliau bercerita;  saat KH. Turaikhan Adjhuri Es Syarofi (Al Maghfurlah) populer dengan sebutan Mbah Tur memimpin munadzoroh<\/em> ada pertanyaan: bagaimana hukumnya kretek? Mbah Tur malah mengambil kretek, menyulut dan menghisapnya, dengan begitu diasumsikan hukumnya \u201chalal\u201d (jadi  setelah itu sudah tidak perlu dibahas lagi soal kretek). KH. Fatkhur Rahman juga menceritakan ada satu alasan kuat, mengapa halal, karena para Kiai itu tidak mau barang subhat<\/em> (tidak jelas posisinya), apalagi haram. Ketika para Kiai\/Ulama\u2019 besar menghisap kretek, otomatis tidak haram. Tuhan menciptakan sesuatu untuk dinikmati itu ada dua, halal atau haram. <\/p>\n\n\n\n

Dasar hukum menghisap kretek adalah mubah, sesuai dengan situasi dan kondisi. Terkadang menjadi wajib, juga menjadi haram. Dasar utamanya adalah  \u201cla dhororo wala dhiroro\u201d. <\/em>Hukumnya seperti  mengkonsumsi gula, ketika kena penyakit gula, maka haram atau tidak boleh mengkonsumsi gula. Begitu pula ketika punya darah tinggi, maka tidak boleh makan daging, dan seterusnya. Dimana \u201calhukmu yadurru ma\u2019a illatihi\u201d<\/em>(hukum itu bisa beralih tergantung alasannya). Membeli kretek dihukumi tidak boleh (haram), jika uang yang dipakai semestinya untuk belanja kebutuhan pokok, membayar sekolah dan lain sebagainya. Menghisap kretek menjadi wajib, ketika tidak menghisap sulit berpikir, lemas, tidak bisa kerja dan lain sebagainya.
<\/p>\n","post_title":"Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"fenomena-hukum-rokok-bagi-ulama-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-10 10:37:16","post_modified_gmt":"2019-04-10 03:37:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5621","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":42},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n