\n

Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
\nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
\nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
\nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

***

Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
\nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
\nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

***

Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
\nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
\nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

***

Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
\nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
\nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

***

Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
\nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
\nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

***

Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
\nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
\nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

***

Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
\nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
\nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

***

Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
\nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
\nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


<\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
    <\/p>\n\n\n\n

    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

    ***

    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

    \n

    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
      <\/p>\n\n\n\n

      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

      ***

      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

      \n

      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
        <\/p>\n\n\n\n

        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

        Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

        Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
        yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
        akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

        Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

        Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
        kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

        Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

        ***

        Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
        begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

        Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
        \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

        Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
        \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

        Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
        teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

        Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
        saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

        Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
        Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

        Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
        tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

        Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

        Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
        kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
        bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

        Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
        tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

        Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
        orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

        Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
        kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


        <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

        \n

        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
        <\/p>\n\n\n\n

        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
          <\/p>\n\n\n\n

          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

          Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

          Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
          yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
          akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

          Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

          Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
          kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

          Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

          ***

          Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
          begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

          Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
          \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

          Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
          \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

          Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
          teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

          Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
          saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

          Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
          Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

          Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
          tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

          Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

          Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
          kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
          bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

          Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
          tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

          Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
          orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

          Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
          kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


          <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

          \n

          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
          <\/p>\n\n\n\n

          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
          <\/p>\n\n\n\n

          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
            <\/p>\n\n\n\n

            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

            Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

            Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
            yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
            akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

            Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

            Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
            kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

            Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

            ***

            Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
            begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

            Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
            \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

            Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
            \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

            Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
            teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

            Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
            saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

            Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
            Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

            Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
            tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

            Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

            Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
            kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
            bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

            Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
            tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

            Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
            orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

            Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
            kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


            <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

            \n

            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
            <\/p>\n\n\n\n

            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
            <\/p>\n\n\n\n

            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
            <\/p>\n\n\n\n

            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
              <\/p>\n\n\n\n

              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

              Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

              Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
              yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
              akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

              Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

              Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
              kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

              Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

              ***

              Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
              begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

              Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
              \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

              Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
              \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

              Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
              teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

              Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
              saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

              Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
              Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

              Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
              tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

              Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

              Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
              kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
              bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

              Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
              tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

              Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
              orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

              Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
              kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


              <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

              \n

              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
              <\/p>\n\n\n\n

              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
              <\/p>\n\n\n\n

              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
              <\/p>\n\n\n\n

              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                <\/p>\n\n\n\n

                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                ***

                Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                \n

                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                <\/p>\n\n\n\n

                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                <\/p>\n\n\n\n

                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                <\/p>\n\n\n\n

                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                  <\/p>\n\n\n\n

                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                  Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                  Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                  yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                  akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                  Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                  Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                  kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                  Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                  ***

                  Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                  begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                  Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                  \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                  Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                  \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                  Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                  teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                  Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                  saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                  Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                  Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                  Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                  tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                  Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                  Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                  kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                  bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                  Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                  tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                  Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                  orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                  Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                  kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                  <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                  \n

                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                  <\/p>\n\n\n\n

                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                  <\/p>\n\n\n\n

                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                  <\/p>\n\n\n\n

                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                  <\/p>\n\n\n\n

                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                    ***

                    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                    \n

                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                      <\/p>\n\n\n\n

                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                      ***

                      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                      \n

                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                      <\/p>\n\n\n\n

                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                      <\/p>\n\n\n\n

                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                      <\/p>\n\n\n\n

                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                      <\/p>\n\n\n\n

                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                        <\/p>\n\n\n\n

                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                        Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                        Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                        yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                        akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                        Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                        Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                        kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                        Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                        ***

                        Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                        begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                        Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                        \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                        Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                        \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                        Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                        teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                        Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                        saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                        Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                        Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                        Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                        tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                        Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                        Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                        kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                        bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                        Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                        tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                        Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                        orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                        Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                        kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                        <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                        \n

                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                        <\/p>\n\n\n\n

                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                        <\/p>\n\n\n\n

                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                        <\/p>\n\n\n\n

                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                        <\/p>\n\n\n\n

                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                          <\/p>\n\n\n\n

                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                          Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                          Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                          yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                          akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                          Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                          Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                          kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                          Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                          ***

                          Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                          begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                          Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                          \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                          Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                          \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                          Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                          teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                          Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                          saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                          Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                          Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                          Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                          tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                          Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                          Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                          kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                          bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                          Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                          tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                          Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                          orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                          Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                          kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                          <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                          \n

                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                          <\/p>\n\n\n\n

                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                          <\/p>\n\n\n\n

                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                          <\/p>\n\n\n\n

                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                          <\/p>\n\n\n\n

                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                          <\/p>\n\n\n\n

                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                            <\/p>\n\n\n\n

                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                            Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                            Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                            yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                            akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                            Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                            Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                            kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                            Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                            ***

                            Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                            begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                            Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                            \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                            Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                            \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                            Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                            teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                            Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                            saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                            Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                            Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                            Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                            tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                            Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                            Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                            kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                            bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                            Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                            tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                            Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                            orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                            Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                            kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                            <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                            \n

                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                            <\/p>\n\n\n\n

                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                            <\/p>\n\n\n\n

                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                            <\/p>\n\n\n\n

                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                            <\/p>\n\n\n\n

                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                            <\/p>\n\n\n\n

                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                              <\/p>\n\n\n\n

                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                              Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                              Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                              yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                              akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                              Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                              Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                              kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                              Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                              ***

                              Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                              begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                              Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                              \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                              Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                              \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                              Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                              teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                              Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                              saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                              Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                              Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                              Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                              tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                              Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                              Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                              kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                              bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                              Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                              tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                              Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                              orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                              Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                              kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                              <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                              \n

                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                              <\/p>\n\n\n\n

                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                              <\/p>\n\n\n\n

                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                              <\/p>\n\n\n\n

                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                              <\/p>\n\n\n\n

                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                              <\/p>\n\n\n\n

                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                <\/p>\n\n\n\n

                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                ***

                                Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                \n

                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                <\/p>\n\n\n\n

                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                <\/p>\n\n\n\n

                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                <\/p>\n\n\n\n

                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                <\/p>\n\n\n\n

                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                <\/p>\n\n\n\n

                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                  <\/p>\n\n\n\n

                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                  Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                  Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                  yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                  akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                  Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                  Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                  kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                  Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                  ***

                                  Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                  begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                  Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                  \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                  Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                  \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                  Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                  teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                  Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                  saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                  Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                  Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                  Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                  tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                  Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                  Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                  kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                  bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                  Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                  tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                  Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                  orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                  Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                  kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                  <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                  \n

                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                  <\/p>\n\n\n\n

                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                  <\/p>\n\n\n\n

                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                  <\/p>\n\n\n\n

                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                  <\/p>\n\n\n\n

                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                  <\/p>\n\n\n\n

                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                    ***

                                    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                    \n

                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                      ***

                                      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                      \r\n

                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                        Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                        Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                        yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                        akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                        Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                        Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                        kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                        Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                        ***

                                        Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                        begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                        Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                        \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                        Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                        \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                        Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                        teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                        Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                        saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                        Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                        Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                        Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                        tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                        Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                        Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                        kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                        bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                        Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                        tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                        Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                        orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                        Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                        kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                        <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                        \r\n

                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                          Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                          Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                          yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                          akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                          Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                          Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                          kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                          Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                          ***

                                          Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                          begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                          Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                          \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                          Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                          \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                          Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                          teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                          Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                          saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                          Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                          Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                          Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                          tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                          Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                          Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                          kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                          bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                          Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                          tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                          Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                          orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                          Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                          kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                          <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                          \r\n
                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                            Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                            Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                            yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                            akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                            Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                            Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                            kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                            Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                            ***

                                            Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                            begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                            Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                            \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                            Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                            \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                            Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                            teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                            Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                            saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                            Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                            Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                            Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                            tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                            Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                            Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                            kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                            bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                            Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                            tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                            Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                            orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                            Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                            kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                            <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                            \r\n

                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                              Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                              Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                              yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                              akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                              Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                              Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                              kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                              Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                              ***

                                              Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                              begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                              Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                              \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                              Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                              \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                              Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                              teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                              Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                              saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                              Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                              Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                              Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                              tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                              Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                              Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                              kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                              bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                              Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                              tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                              Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                              orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                              Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                              kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                              <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                              \r\n

                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                ***

                                                Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                \r\n

                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                  Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                  yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                  akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                  Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                  Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                  kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                  Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                  ***

                                                  Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                  begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                  Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                  \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                  Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                  \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                  teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                  Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                  saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                  Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                  Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                  Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                  tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                  Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                  kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                  bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                  Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                  tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                  Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                  orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                  Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                  kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                  <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                  \r\n

                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                    ***

                                                    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                    \r\n

                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                      ***

                                                      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                      \r\n

                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                        Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                        yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                        akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                        Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                        Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                        kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                        Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                        ***

                                                        Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                        begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                        Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                        \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                        Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                        \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                        teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                        Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                        saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                        Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                        Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                        Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                        tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                        Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                        kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                        bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                        Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                        tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                        Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                        orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                        Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                        kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                        <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                        \r\n

                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                          Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                          yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                          akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                          Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                          Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                          kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                          Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                          ***

                                                          Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                          begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                          Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                          \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                          Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                          \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                          teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                          Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                          saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                          Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                          Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                          Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                          tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                          Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                          kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                          bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                          Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                          tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                          Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                          orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                          Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                          kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                          <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                          \r\n

                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                            Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                            yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                            akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                            Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                            Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                            kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                            Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                            ***

                                                            Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                            begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                            Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                            \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                            Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                            \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                            teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                            Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                            saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                            Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                            Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                            Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                            tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                            Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                            kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                            bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                            Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                            tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                            Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                            orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                            Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                            kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                            <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                            \r\n

                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                              Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                              yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                              akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                              Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                              Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                              kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                              Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                              ***

                                                              Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                              begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                              Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                              \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                              Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                              \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                              teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                              Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                              saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                              Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                              Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                              Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                              tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                              Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                              kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                              bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                              Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                              tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                              Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                              orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                              Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                              kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                              <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                              \r\n

                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                ***

                                                                Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                \r\n

                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                  Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                  yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                  akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                  kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                  ***

                                                                  Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                  begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                  \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                  \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                  teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                  Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                  saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                  Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                  Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                  Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                  tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                  Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                  kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                  bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                  Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                  tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                  Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                  orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                  Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                  kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                  <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                  \r\n

                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                    ***

                                                                    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                    \r\n

                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                      ***

                                                                      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                      \r\n

                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                        Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                        yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                        akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                        kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                        ***

                                                                        Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                        begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                        \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                        \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                        teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                        Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                        saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                        Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                        Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                        Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                        tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                        Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                        kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                        bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                        Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                        tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                        Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                        orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                        Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                        kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                        <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                        \r\n

                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                          Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                          yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                          akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                          kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                          ***

                                                                          Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                          begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                          \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                          \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                          teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                          Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                          saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                          Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                          Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                          Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                          tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                          Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                          kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                          bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                          Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                          tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                          Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                          orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                          Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                          kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                          <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                          \r\n

                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                            Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                            yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                            akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                            kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                            ***

                                                                            Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                            begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                            \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                            \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                            teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                            Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                            saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                            Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                            Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                            Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                            tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                            Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                            kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                            bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                            Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                            tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                            Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                            orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                            Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                            kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                            <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                            \r\n

                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                              Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                              yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                              akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                              kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                              ***

                                                                              Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                              begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                              \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                              \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                              teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                              Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                              saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                              Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                              Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                              Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                              tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                              Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                              kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                              bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                              Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                              tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                              Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                              orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                              Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                              kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                              <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                              \r\n

                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                ***

                                                                                Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                \r\n
                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                  Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                  yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                  akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                  kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                  ***

                                                                                  Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                  begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                  \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                  \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                  teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                  Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                  saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                  Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                  Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                  Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                  tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                  Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                  kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                  bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                  Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                  tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                  Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                  orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                  Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                  kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                  \r\n

                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                    ***

                                                                                    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                    \r\n

                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                      ***

                                                                                      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                      \r\n

                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                        Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                        yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                        akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                        kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                        ***

                                                                                        Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                        begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                        \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                        \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                        teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                        Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                        saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                        Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                        Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                        Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                        tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                        Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                        kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                        bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                        Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                        tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                        Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                        orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                        Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                        kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                        \r\n

                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                          Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                          yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                          akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                          kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                          ***

                                                                                          Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                          begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                          \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                          \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                          teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                          Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                          saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                          Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                          Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                          Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                          tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                          Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                          kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                          bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                          Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                          tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                          Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                          orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                          Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                          kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                          \r\n

                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                            Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                            yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                            akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                            kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                            ***

                                                                                            Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                            begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                            \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                            \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                            teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                            Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                            saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                            Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                            Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                            Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                            tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                            Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                            kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                            bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                            Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                            tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                            Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                            orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                            Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                            kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                            \r\n

                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                              Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                              yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                              akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                              kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                              ***

                                                                                              Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                              begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                              \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                              \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                              teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                              Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                              saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                              Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                              Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                              Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                              tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                              Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                              kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                              bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                              Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                              tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                              Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                              orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                              Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                              kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                              \r\n

                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                ***

                                                                                                Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                \r\n

                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                  Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                  yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                  akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                  kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                  ***

                                                                                                  Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                  begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                  \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                  \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                  teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                  Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                  saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                  Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                  Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                  Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                  tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                  Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                  kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                  bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                  Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                  tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                  Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                  orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                  Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                  kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                  \r\n

                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                    ***

                                                                                                    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                    \r\n

                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                      ***

                                                                                                      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                      \r\n

                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                        Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                        yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                        akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                        kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                        ***

                                                                                                        Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                        begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                        \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                        \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                        teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                        Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                        saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                        Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                        Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                        Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                        tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                        Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                        kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                        bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                        Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                        tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                        Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                        orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                        Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                        kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                        \r\n

                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                          Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                          yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                          akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                          kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                          ***

                                                                                                          Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                          begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                          \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                          \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                          teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                          Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                          saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                          Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                          Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                          Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                          tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                          Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                          kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                          bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                          Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                          tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                          Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                          orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                          Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                          kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                          \r\n

                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                            Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                            yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                            akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                            kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                            ***

                                                                                                            Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                            begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                            \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                            \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                            teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                            Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                            saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                            Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                            Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                            Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                            tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                            Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                            kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                            bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                            Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                            tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                            Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                            orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                            Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                            kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                            \r\n

                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                              Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                              yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                              akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                              kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                              ***

                                                                                                              Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                              begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                              \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                              \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                              teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                              Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                              saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                              Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                              Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                              Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                              tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                              Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                              kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                              bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                              Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                              tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                              Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                              orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                              Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                              kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                              \r\n

                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                ***

                                                                                                                Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                \r\n

                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                  Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                  yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                  akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                  kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                  ***

                                                                                                                  Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                  begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                  \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                  \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                  teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                  Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                  saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                  Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                  Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                  Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                  tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                  Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                  kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                  bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                  Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                  tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                  Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                  orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                  Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                  kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                  \n

                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                    ***

                                                                                                                    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                    \n

                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                      ***

                                                                                                                      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                      \n

                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                        Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                        yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                        akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                        kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                        ***

                                                                                                                        Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                        begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                        \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                        \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                        teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                        Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                        saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                        Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                        Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                        Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                        tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                        Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                        kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                        bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                        Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                        tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                        Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                        orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                        Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                        kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                        \n

                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                          Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                          yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                          akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                          kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                          ***

                                                                                                                          Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                          begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                          \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                          \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                          teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                          Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                          saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                          Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                          Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                          Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                          tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                          Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                          kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                          bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                          Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                          tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                          Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                          orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                          Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                          kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                          \n

                                                                                                                          Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                            Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                            yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                            akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                            kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                            ***

                                                                                                                            Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                            begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                            \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                            \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                            teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                            Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                            saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                            Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                            Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                            Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                            tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                            Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                            kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                            bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                            Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                            tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                            Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                            orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                            Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                            kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                            \n

                                                                                                                            Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                              Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                              yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                              akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                              kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                              ***

                                                                                                                              Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                              begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                              \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                              \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                              teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                              Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                              saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                              Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                              Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                              Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                              tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                              Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                              kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                              bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                              Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                              tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                              Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                              orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                              Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                              kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                              \n

                                                                                                                              Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                ***

                                                                                                                                Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                \n

                                                                                                                                Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                  Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                  yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                  akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                  kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                  ***

                                                                                                                                  Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                  begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                  \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                  \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                  teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                  Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                  saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                  Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                  Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                  Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                  tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                  Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                  kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                  bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                  Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                  tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                  Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                  orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                  Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                  kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                    ***

                                                                                                                                    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                    Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                      ***

                                                                                                                                      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                      Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                        Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                        yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                        akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                        kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                        ***

                                                                                                                                        Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                        begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                        \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                        \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                        teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                        Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                        saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                        Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                        Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                        Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                        tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                        Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                        kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                        bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                        Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                        tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                        Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                        orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                        Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                        kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                        Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                          Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                          yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                          akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                          kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                          ***

                                                                                                                                          Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                          begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                          \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                          \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                          teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                          Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                          saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                          Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                          Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                          Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                          tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                          Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                          kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                          bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                          Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                          tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                          Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                          orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                          Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                          kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                          Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                            Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                            yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                            akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                            kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                            ***

                                                                                                                                            Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                            begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                            \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                            \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                            teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                            Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                            saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                            Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                            Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                            Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                            tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                            Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                            kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                            bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                            Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                            tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                            Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                            orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                            Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                            kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                            Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                              Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                              yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                              akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                              kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                              ***

                                                                                                                                              Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                              begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                              \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                              \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                              teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                              Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                              saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                              Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                              Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                              Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                              tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                              Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                              kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                              bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                              Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                              tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                              Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                              orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                              Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                              kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                              Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                ***

                                                                                                                                                Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                  Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                  yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                  akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                  kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                  ***

                                                                                                                                                  Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                  begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                  \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                  \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                  teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                  Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                  saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                  Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                  Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                  Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                  tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                  Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                  kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                  bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                  Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                  tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                  Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                  orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                  Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                  kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                  Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                  Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                    ***

                                                                                                                                                    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                    Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                    Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                      ***

                                                                                                                                                      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                      Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                      Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                        Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                        yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                        akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                        kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                        ***

                                                                                                                                                        Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                        begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                        \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                        \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                        teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                        Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                        saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                        Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                        Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                        Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                        tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                        Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                        kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                        bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                        Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                        tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                        Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                        orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                        Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                        kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                        Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                        Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                          Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                          yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                          akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                          kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                          ***

                                                                                                                                                          Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                          begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                          \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                          \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                          teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                          Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                          saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                          Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                          Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                          Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                          tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                          Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                          kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                          bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                          Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                          tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                          Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                          orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                          Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                          kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                          Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                          Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                            Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                            yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                            akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                            kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                            ***

                                                                                                                                                            Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                            begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                            \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                            \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                            teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                            Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                            saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                            Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                            Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                            Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                            tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                            Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                            kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                            bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                            Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                            tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                            Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                            orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                            Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                            kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                            Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                            Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                              Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                              yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                              akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                              kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                              ***

                                                                                                                                                              Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                              begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                              \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                              \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                              teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                              Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                              saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                              Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                              Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                              Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                              tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                              Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                              kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                              bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                              Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                              tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                              Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                              orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                              Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                              kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                                              Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                              Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                ***

                                                                                                                                                                Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                  Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                  yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                  akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                  kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                  ***

                                                                                                                                                                  Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                  begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                  \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                  \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                  teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                  Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                  saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                  Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                  Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                  Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                  tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                  Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                  kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                  bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                  Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                  tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                  Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                  orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                  Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                  kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                                  Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                  Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                    ***

                                                                                                                                                                    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                    Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                    Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                      ***

                                                                                                                                                                      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                                      Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                      Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                        Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                        yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                        akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                        kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                        ***

                                                                                                                                                                        Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                        begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                        \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                        \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                        teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                        Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                        saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                        Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                        Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                        Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                        tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                        Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                        kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                        bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                        Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                        tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                        Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                        orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                        Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                        kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                        Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                        Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                          Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                          yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                          akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                          kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                          ***

                                                                                                                                                                          Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                          begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                          \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                          \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                          teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                          Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                          saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                          Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                          Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                          Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                          tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                          Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                          kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                          bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                          Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                          tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                          Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                          orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                          Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                          kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                                          Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                          Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                          Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                            Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                            yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                            akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                            kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                            ***

                                                                                                                                                                            Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                            begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                            \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                            \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                            teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                            Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                            saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                            Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                            Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                            Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                            tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                            Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                            kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                            bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                            Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                            tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                            Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                            orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                            Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                            kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                            Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                            Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                            Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                              Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                              yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                              akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                              kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                              ***

                                                                                                                                                                              Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                              begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                              \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                              \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                              teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                              Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                              saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                              Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                              Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                              Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                              tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                              Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                              kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                              bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                              Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                              tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                              Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                              orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                              Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                              kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                                                              Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                              Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                              Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                                yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                                akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                                kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                                ***

                                                                                                                                                                                Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                                begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                                \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                                \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                                teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                                Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                                saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                                Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                                Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                                Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                                tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                                Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                                kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                                bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                                Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                                tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                                Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                                orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                                Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                                kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                  Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                                  yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                                  akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                                  kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                                  ***

                                                                                                                                                                                  Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                                  begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                                  \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                                  \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                                  teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                                  Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                                  saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                                  Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                                  Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                                  Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                                  tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                                  Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                                  kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                                  bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                                  Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                                  tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                                  Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                                  orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                                  Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                                  kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                                                  Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                  Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                  Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                                    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                                    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                                    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                                    ***

                                                                                                                                                                                    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                                    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                                    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                                    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                                    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                                    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                                    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                                    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                                    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                                    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                                    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                                    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                                    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                                    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                                    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                                    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                                    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                                    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                                    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                                    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                    Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                    Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                    Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                                      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                                      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                                      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                                      ***

                                                                                                                                                                                      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                                      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                                      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                                      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                                      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                                      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                                      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                                      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                                      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                                      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                                      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                                      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                                      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                                      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                                      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                                      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                                      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                                      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                                      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                                      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                                                      Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                      Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                      Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                        Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                                        yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                                        akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                                        kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                                        ***

                                                                                                                                                                                        Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                                        begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                                        \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                                        \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                                        teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                                        Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                                        saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                                        Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                                        Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                                        Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                                        tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                                        Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                                        kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                                        bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                                        Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                                        tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                                        Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                                        orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                                        Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                                        kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                        Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                        Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                        Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                          Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                                          yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                                          akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                                          kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                                          ***

                                                                                                                                                                                          Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                                          begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                                          \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                                          \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                                          teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                                          Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                                          saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                                          Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                                          Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                                          Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                                          tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                                          Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                                          kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                                          bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                                          Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                                          tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                                          Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                                          orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                                          Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                                          kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                                                          Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
                                                                                                                                                                                          <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                          Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                          Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                            Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                                            yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                                            akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                                            kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                                            ***

                                                                                                                                                                                            Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                                            begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                                            \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                                            \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                                            teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                                            Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                                            saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                                            Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                                            Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                                            Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                                            tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                                            Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                                            kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                                            bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                                            Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                                            tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                                            Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                                            orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                                            Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                                            kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                            Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
                                                                                                                                                                                            <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                            Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                            Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                              Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                                              yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                                              akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                                              kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                                              ***

                                                                                                                                                                                              Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                                              begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                                              \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                                              \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                                              teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                                              Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                                              saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                                              Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                                              Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                                              Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                                              tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                                              Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                                              kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                                              bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                                              Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                                              tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                                              Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                                              orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                                              Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                                              kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                                                                              Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
                                                                                                                                                                                              <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                              Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                              Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                                                yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                                                akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                                                kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                                                ***

                                                                                                                                                                                                Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                                                begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                                                \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                                                \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                                                teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                                                Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                                                saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                                                Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                                                Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                                                Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                                                tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                                                Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                                                kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                                                bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                                                Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                                                tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                                                Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                                                orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                                                Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                                                kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
                                                                                                                                                                                                <\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
                                                                                                                                                                                                <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                  Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                                                  yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                                                  akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                                                  kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                                                  ***

                                                                                                                                                                                                  Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                                                  begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                                                  \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                                                  \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                                                  teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                                                  Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                                                  saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                                                  Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                                                  Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                                                  Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                                                  tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                                                  Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                                                  kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                                                  bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                                                  Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                                                  tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                                                  Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                                                  orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                                                  Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                                                  kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                                                                  IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
                                                                                                                                                                                                  <\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
                                                                                                                                                                                                  <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                  Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                  Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                    Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                                                    yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                                                    akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                                                    kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                                                    ***

                                                                                                                                                                                                    Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                                                    begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                                                    \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                                                    \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                                                    teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                                                    Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                                                    saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                                                    Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                                                    Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                                                    Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                                                    tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                                                    Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                                                    kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                                                    bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                                                    Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                                                    tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                                                    Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                                                    orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                                                    Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                                                    kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                    Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
                                                                                                                                                                                                    <\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
                                                                                                                                                                                                    <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5525,"post_author":"919","post_date":"2019-03-09 07:35:35","post_date_gmt":"2019-03-09 00:35:35","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                    Selamat Hari Perempuan Internasional! Bangkit dan bersatu hadapi segala penindasan yang kerap terjadi kepada kaum perempuan. Bagi yang masih terbelenggu dengan segala budaya patriarki, sejenak manfaatkan satu hari saja untuk meninggalkan segala pekerjaan dapur, ajak sesamamu untuk turun ke jalan. Ini hari rayamu, berkumpullah dengan perempuan lainnya. Kalian tidak sendiri, karena dunia ini juga menyediakan ruang untuk kalian, kaum perempuan!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Sebagai seorang pria yang terdidik dan tumbuh di ruang dan keluarga yang masih mengunut paham patriarki rasanya sulit memulai untuk menulis isu-isu tentang perempuan. Berat memang untuk memulai menyusunnya kata demi kata, terlebih saya bukan seorang pria yang terjun betul dalam isu perempuan. Namun, setidaknya mata saya melihat ada berbagai ketidakadilan yang dialami oleh para perempuan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Tak hanya di kawasan dunia ketiga atau negara berkembang, posisi perempuan memang masih banyak dianggap sebagai aset bagi para pria. Namanya juga aset berharga, ia betul-betul dijaga agar tak lecet dan bahkan terus tetap indah di hadapan mereka. Niatnya memang baik, namun teori tersebut kerap menghalalkan segala cara bagi para pria untuk bertindak semena-mena kepada para perempuan. Contohnya, tak perlu ditulis panjang lebar di sini bukan? Jika anda mau membuka hati saja maka seabrek-abrek kasus mengantri untuk anda simak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Kartini dan Perempuan Perokok<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Kota boleh saja disebut sebagai tempat yang modern, baik itu pemikiran ataupun segala tetek bengek di dalamnya. Akan tetapi, pemikiran-pemikiran dangkal masih saja ada, dan menjamur di mana saja. Pemikiran dangkal tersebut salah satunya adalah stigma buruk yang dengan mudah dilayangkan kepada para perempuan yang memilih cara kehidupan yang berbeda. Coba bikin riset kecil-kecilan di lingkungan anda, pasti masih banyak yang tak memperbolehkan atau menganggap tabu para perempuan yang berkarier. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Segala macam stigma tersebut dengan mudahnya terpapar, sepertinya hal tersebut sudah jadi kelumrahan yang sebenarnya perlu diluruskan. Apa salahnya memang bagi perempuan yang harus pulang malam demi pekerjaannya, apa diharamkan bagi perempuan untuk sibuk menata masa depannya dan mengesampingkan keinginan orang tuanya untuk nikah muda? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Bicara soal stigma, para perokok perempuan justru yang mendapat cap stempel buruk di masyarakat. Jangankan perempuan, para pria yang merokok saja kadang dianggap sampah sosial bagi beberapa golongan tertentu. Selama mereka mengkonsumsi rokok di usia yang sudah diperbolehkan dan di tempat-tempat yang diizinkan, apa salahnya?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Para perokok perempuan kerap diidentikkan dengan kata-kata jalang, tak bermoral, dan segala hal-hal buruk lainnya. Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa jangan menilai buku dari sampulnya bukan? Sebelum mengenal para perokok perempuan lebih jauh, mengapa stigma itu dengan mudah terus dilekatkan? Perlu bukti siapa saja yang mempunyai karier bagus? Bu Susi atau penyanyi yang sedang naik daun, Danilla Riyadi cukup memberi bukti bagi kalian.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Kisah Perempuan Pemetik Cengkeh<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Lagian, apa salahnya para perempuan untuk menikmati rokok? Apakah rokok memang hanya diciptakan untuk kaum adam saja? Mana ada sejarahnya dan dalilnya bahwa tumbuhan tembakau diciptakan untuk satu golongan tertentu saja. Rokok adalah produk tanpa gender seperti yang lainnya, ia bisa dinikmati oleh golongan jenis kelamin apa saja. Jangankan rokok, sepak bola saja juga bisa kok dimainkan dan dinikmati oleh kaum hawa.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Mungkin, pikiran kalian saja yang sempit dan gumunan<\/em> melihat para perempuan menikmati rokok. Jika kalian mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke desa-desa, ada cukup banyak kok perempuan atau ibu-ibu yang menghisap rokok. Apakah mereka jalang? Apakah mereka pemalas? Tidak. Mereka menikmati rokok di sela-sela pekerjaan mereka sebagai petani, berkumpul bersama ibu-ibu lainnya atau bapak-bapak. Sebatang demi batang mereka hisap sembari bercengkarama santai dengan para petani lainnya, indah bukan? <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Sebagai penutup, jasa para kaum hawa terhadap rokok sungguhlah besar. Berbagai industri rokok terkemuka di tanah air menggunakan jasa mereka untuk menghadirkan rokok-rokok nikmat bercitarasa tinggi. Ingatlah, di setiap rokok yang kalian hisap, ada keringat mereka pula yang bekerja demi anak dan keluarga di rumah.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Para Perokok Perempuan Sedunia, Bersatulah!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"para-perokok-perempuan-sedunia-bersatulah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-09 07:35:42","post_modified_gmt":"2019-03-09 00:35:42","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5525","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                    Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5504,"post_author":"924","post_date":"2019-03-03 09:37:39","post_date_gmt":"2019-03-03 02:37:39","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                      Menghisap kretek adalah mengingat nenek dan kebun kelapanya. Siang\u00a0hari seusai berkebun, biasanya nenek\u2014atau Mama Tua, seperti orang kampung\u00a0dan cucu-cucunya memanggilnya\u2014istirahat di gubuk kayunya yang terletak di\u00a0tengah kebun. Bernaung atap sederhana dan dedaunan dari pohon kelapa yang\u00a0menjulang, ia akan melakukan ritualnya saban hari dan berharap cucu-cucunya\u00a0tidak akan datang untuk minta dicarikan kutu. Di pondok sederhananya\u00a0 itu,\u00a0ia menghayati\u00a0 suara\u00a0 laut\u00a0 yang\u00a0 tidak\u00a0 jauh\u00a0 dari\u00a0 kebun. Dan mengingat\u00a0 anak-cucunya\u00a0 yang merantau.\u00a0 Seperti\u00a0 dukun-dukun\u00a0 yang\u00a0 umumnya mengepulkan\u00a0doa-doa\u00a0 melalui\u00a0 hembusan\u00a0 asap\u00a0 kretek,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 pun\u00a0 berdoa.\u00a0 Untuk\u00a0memanggil pulang anak-cucunya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Beberapa\u00a0 tahun\u00a0 setelah menemukan\u00a0 ritual\u00a0 nenek,\u00a0 saya\u00a0 bertemu\u00a0 teman\u00a0
                                                                                                                                                                                                      yang\u00a0 juga\u00a0 cerita\u00a0 tentang\u00a0 ritual\u00a0 personalnya\u00a0 dengan\u00a0 kretek. Willy\u00a0 namanya.\u00a0Dalam\u00a0 keriuhan\u00a0 warung\u00a0 soto\u00a0 Kudus, Willy\u00a0 bercerita\u00a0 kalau\u00a0 ia\u00a0 rindu\u00a0 sekali\u00a0mendaki\u00a0 gunung dan melaksanakan\u00a0 ritualnya.\u00a0 Ia membayangkan perjalanan\u00a0menuju puncak dimana hanya akan ada teman-teman yang sudah akrab kental\u00a0dan tumbuhan. Ia membayangkan perjalanan berjam-jam melalui jalan setapak\u00a0sebelum menjelang puncak dan mendirikan\u00a0 tenda di\u00a0 sana. Kemudian\u00a0 ia dan\u00a0teman-temannya akan menyalakan api unggun, menjerang air, mengopi, dan\u00a0mengkretek\u00a0 sambil menikmati matahari\u00a0 yang\u00a0 terbenam\u00a0 atau\u00a0 terbit keesokan\u00a0paginya. Dan Willy pun berkhayal, saat teman-temannya sudah tidur, ia ingin\u00a0duduk sendiri bersama api unggun dan sebatang kretek. Bunyi cengkeh terbakar\u00a0
                                                                                                                                                                                                      akan menemani hening sementara kepulan asap akan menari untuknya, sebelum\u00a0pergi menikmati bintang. \u201cItulah liburan holistik buatku,\u201d katanya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Cerita  lain  datang  dari  seorang \nkawan  seniman  yang  seringkali  mati  gaya karena kehabisan  ide. Dan di  saat-saat \nseperti  itu,  ia akan menyiapkan segelas kopi dan mencari sudut\nuntuk duduk paling nyaman. Di sudut  itulah ia kemudian merenung\nsambil menyeruput kopi, mengkretek, dan berbincang kalau ada teman. Kalau\nlagi sendiri ia akan duduk bersama kertas gambarnya  dan  membiarkan  dirinya \nmenggambar  apapun  yang  terlintas  dalam \nbenak.  Kretek  itu \npenting  dalam  proses  kreatif  saya.  \u201cKretek \nitu  teman  berpikir,\u201d  ujarnya.\nPaduannya dengan kopi bikin  imajinasi  jadi cemerlang dan\nmemacu endorfin. Entah karena  tembakau  atau \ncengkeh  atau kopi  yang penting bisa  menggambar lagi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Baik Mama Tua, Willy, maupun kawan seniman saya, ketiganya merokok\u00a0
                                                                                                                                                                                                      kretek.\u00a0 Willy\u00a0 dengan\u00a0 Sampoerna\u00a0 A\u00a0 Mild-nya,\u00a0 Mama\u00a0 Tua\u00a0 dengan\u00a0 Djarum\u00a0Super-nya,\u00a0 dan\u00a0 si\u00a0 seniman\u00a0 dengan Gudang Garam Merah-nya. Dan\u00a0 kenapa\u00a0kretek? Bukannya mereka tidak tahu kalau ada rokok putih di warung. Tapi ini\u00a0masalah selera. Willy lebih suka kretek yang ada bunyinya dan rasanya manis.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Sementara si seniman beranggapan kalau rokok putih selain tidak enak adalah\u00a0rokok kapitalis. Dan Mama Tua,\u00a0 ia tidak suka rokok putih karena tidak ada\u00a0rasanya. Lagipula, sejak\u00a0 ia kecil, rokok yang dikenalnya adalah rokok kretek\u00a0atau kalau tidak ada rokok nginang bisa jadi pengganti. Tapi, Mama Tua tetap\u00a0milih merokok di masa\u00a0 tuanya daripada nginang. Kenapa? Karena\u00a0 gigi\u00a0 saya\u00a0sudah bagus, kelakar Mama Tua.

                                                                                                                                                                                                      ***

                                                                                                                                                                                                      Berbicara tentang ritual sekilas terkesan religius. Padahal tidak selamanya\u00a0
                                                                                                                                                                                                      begitu. Ritual bukan hanya milik agama atau aliran-aliran kepercayaan yang\u00a0melulu mesti dikerjakan berjamaah. Bersembahyang sendiri pun tanpa disadari\u00a0termasuk ritual personal seseorang. Kemudian menyapu halaman di pagi hari,\u00a0mencuci piring, membereskan rumah juga bisa dikatakan sebagai ritual. Maka,\u00a0ritual itu sesungguhnya hak semua orang dan penyelenggaraannya bisa dibuat\u00a0sekreatif mungkin, selama tidak mengganggu atau merepotkan orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Sebuah  contoh  datang  dari  paman \nyang  tinggal  di  sebuah  desa  dekat 
                                                                                                                                                                                                      \nBorobudur. Setiap pagi ia punya ritual untuk\nbersepeda berkeliling desa sehabis mandi. \u201cMau tengok Merapi atau\nmengeringkan rambut,\u201d katanya setiap ada orang bertanya hendak kemana ia\npergi dengan onthel kesayangannya. Ritual itu kemudian dilanjutkannya\ndengan menjerang air panas dan menyeduh kopi instan untuk ia bawa ke ruang\ntamu dan di kursi dekat jendela ia akan duduk, menikmati sinar matahari\nyang jatuh di punggungnya. Kemudian ia akan mulai melinting  tembakau\nMadura dan  cengkehnya  sambil memperhatikan  lukisan yang \nsedang dikerjakannya. Ritualnya  ini bisa memakan waktu  sampai \nsatu, dua jam, hampir setiap harinya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Lain si paman,  lain  juga petani-petani yang\nbiasanya saya  temui ketika 
                                                                                                                                                                                                      \nmblasuk ke desa-desa. Dan sebetulnya ini bukan\npemandangan asing bagi yang menyadari. Kalau pada waktu-waktu \nistirahat makan  siang atau pulang dari sawah dan  ladang akan\nbanyak  terlihat petani menikmati kretek atau klobot yang tersemat di\nbibir mereka\u2014tidak akan ada pemandangan petani menikmati rokok putih dan\nsaya bersyukur atas ketidakadaan tersebut. Lebih-lebihkalau jalanjalan \ndi  seputar  Wonosobo,  Banjarnegara,  sampai \nDieng.  Rasanya menggetarkan  sekalimencium  aroma \nkemenyan  di  udara  dari  klobot  petani yang \nsedang  berjalan  pulang  atau  nongkrong  di \npinggir  jalan. Memandangi hijau  perbukitan  dan \nsawah, mendengarkan  sayup-sayup  jeram  dari \nSerayu, ditambah aroma kemenyan yang tipis di udara adalah pengalaman yang\nsangat sulit dilupakan sekaligus didapatkan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Mengingat bagaimana orang-orang tua di desa melinting tembakau, saya\u00a0
                                                                                                                                                                                                      teringat perbincangan dengan salah satu teman. Dalam perbincangan tersebut,\u00a0kami bersepakat kalau orang-orang yang melinting dengan penghayatan penuh\u00a0adalah\u00a0 seorang\u00a0 alkemis. Mereka\u00a0 tidak\u00a0 sekedar menikmati\u00a0 tembakau,\u00a0 tetapi\u00a0juga\u00a0 sedang\u00a0 melakukan\u00a0 proses\u00a0 pemurnian\u00a0 diri\u00a0 layaknya\u00a0 orang\u00a0 mandi.\u00a0 Jika\u00a0mandi membersihkan permukaan raga, maka asap yang tersesap membersihkan\u00a0dada\u2014sarang bagi perasaan-perasaan\u2014melalui api yang memberi nyawa pada\u00a0sebatang kretek.\u00a0

                                                                                                                                                                                                      Dalam perbincangan itu saya teringat salah satu guru SD (sekolah dasar)\u00a0
                                                                                                                                                                                                      saya.\u00a0 Bu\u00a0 Nonce\u00a0 namanya.\u00a0 Kabar\u00a0 terakhir\u00a0 tentangnya\u00a0 sungguh\u00a0 tidak\u00a0 enak\u00a0didengar. Orang-orang bilang Bu Nonce stres, baru bercerai dengan suaminya\u00a0yang selingkuh. Lantas kini dia jadi asosial dan perokok berat. Ibu saya cerita\u00a0pula kalau teman-teman sesama guru malas untuk mendekatinya karena ia kini\u00a0perokok berat Djarum Super.\u00a0

                                                                                                                                                                                                      Saat mendapat\u00a0 berita\u00a0 ini\u00a0 saya\u00a0 tidak\u00a0 terlalu\u00a0 ambil\u00a0 pusing\u00a0 dengan\u00a0 kisah\u00a0
                                                                                                                                                                                                      Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Tapi\u00a0 belakangan\u00a0 saya\u00a0 jadi\u00a0 memikirkan\u00a0 Bu\u00a0 Nonce.\u00a0 Sepanjang\u00a0ingatan saya ia tampak sebagai sosok perempuan yang punya pendirian. Lantas\u00a0hubungannya\u00a0 dengan\u00a0 rokok,\u00a0 semestinya\u00a0 tidak\u00a0 serta-merta membuat\u00a0 teman-temannya menjauh darinya. Toh, mereka tidak berada dalam sepatu Bu Nonce.\u00a0Mereka tidak tahu pikiran dan perasaan-perasaan seperti apa yang berkecamuk\u00a0dalam diri Bu Nonce. Maka semestinya tidak ada satu orang pun yang berhak\u00a0menghakimi Bu Nonce. Tapi mungkin, Bu Nonce pun sudah tidak ambil pusing lagi dengan kelakuan suaminya atau teman-teman yang menjauhinya. Mungkin,\u00a0Bu Nonce\u00a0 sudah mati\u00a0 rasa\u00a0 terhadap\u00a0 dunia\u00a0 dan\u00a0 di\u00a0 saat-saat\u00a0 seperti\u00a0 itu,\u00a0 bisa\u00a0jadi sebungkus Djarum Super menyelamatkan pikirannya tetap jernih bertahan\u00a0pada kesadaran bahwa ia bisa bertahan dan tidak kehilangan dirinya sendiri.\u00a0

                                                                                                                                                                                                      Lantas, apa yang membuat kretek menjadi begitu magis? Entah karena\u00a0
                                                                                                                                                                                                      tembakau, cengkeh, atau paduan keduanya, semua orang punya pendapat dan\u00a0imajinasinya masing-masing. Tapi kapan-kapan silakan coba memasukkan kata\u00a0kunci \u201cthe magic of\u00a0 cloves\u201d di mesin pencari, maka akan ada banyak\u00a0 sekali\u00a0website yang memaparkan kekuatan magis\u00a0 cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Selain digunakan untuk\u00a0memasak dan pengobatan, beberapa di antaranya mengatakan kalau cengkeh\u00a0dapat\u00a0 membawa\u00a0 keberuntungan\u00a0 ke\u00a0 rumah\u00a0 seseorang,\u00a0 menghentikan\u00a0 gosip\u00a0yang\u00a0 sedang menerpa,\u00a0 dan mempererat\u00a0 ikatan\u00a0 persahabatan.\u00a0 Yang\u00a0 terakhir\u00a0ini mungkin benar, mengingat betapa seringnya terjadi komunikasi antara dua\u00a0orang atau lebih setelah salah satunya berkata, \u201cRokok, Mas?\u201d

                                                                                                                                                                                                      Dengan\u00a0 segala\u00a0 yang\u00a0 terkandung\u00a0 di\u00a0 dalamnya\u00a0 rasanya\u00a0 tidak\u00a0 salah\u00a0 jika\u00a0
                                                                                                                                                                                                      kretek menjadi pelengkap ritual personal banyak orang, baik laki-laki maupun\u00a0perempuan. Dengan begitu, kretek melampaui batasan gender dan bidang-bidang\u00a0pekerjaan\u2014sungguh\u00a0 sesuatu yang universal. Yang muda dan yang\u00a0 tua punya\u00a0caranya sendiri dalam menikmati rokok kretek dan bahkan menyematkannya\u00a0ritual personal yang menunjukkan tingkat kreativitas. Dengan kecenderungan\u00a0habis\u00a0 lebih\u00a0 lama dibanding rokok putih, kretek memberi\u00a0 lebih banyak waktu bagi\u00a0 perokok\u00a0 berdialog\u00a0 dengan\u00a0 dirinya\u00a0 sendiri.\u00a0 Meski\u00a0 banyak\u00a0 orang\u00a0 yang\u00a0
                                                                                                                                                                                                      bukan perokok bilang, kalau merokok\u00a0 sambil bengong atau ngobrol\u00a0 saja\u00a0 itu\u00a0buang-buang waktu\u2014time is money, dude!\u00a0

                                                                                                                                                                                                      Ya, di satu sisi waktu memang uang. Tapi di sisi\u00a0 lain, ada hal-hal yang\u00a0
                                                                                                                                                                                                      tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibeli\u00a0 dengan\u00a0 uang.\u00a0 Seperti\u00a0 misalnya\u00a0 uang\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 membeli\u00a0rasa\u00a0 kebersamaan\u00a0 yang\u00a0 tercipta\u00a0 antara\u00a0 dua\u00a0 orang\u00a0 atau\u00a0 lebih\u00a0 karena mereka\u00a0merokok kretek yang sama. Atau kedamaian dan ketenangan yang ditimbulkan\u00a0dari\u00a0 kretek\u00a0 bagi\u00a0 seseorang\u00a0 yang\u00a0 sedang\u00a0 merenungi\u00a0 pertengkaran\u00a0 yang\u00a0meluluhlantakkan\u00a0 harinya. Hal hal\u00a0 seperti\u00a0 itu\u00a0 jelas\u00a0 tidak\u00a0 bisa\u00a0 dibandingkan\u00a0dengan\u00a0 harga\u00a0 sebungkus\u00a0 kretek.\u00a0 Abstrak\u00a0 memang.\u00a0 Tapi,\u00a0 begitulah\u00a0 adanya\u00a0pengalaman\u00a0 rasa.\u00a0 Ia\u00a0 tidak bisa ditampilkan dalam bentuk yang nyata\u00a0 saking\u00a0lenturnya. Dan di antara pengalaman-pengalaman rasa tersebut terselip kretek\u00a0 di bibir banyak orang.

                                                                                                                                                                                                      Banyak\u00a0 orang\u00a0 yang merokok\u00a0 ala\u00a0 kadarnya.\u00a0 Tapi,\u00a0 tidak\u00a0 sedikit\u00a0 orang-
                                                                                                                                                                                                      orang\u00a0 yang\u00a0 memiliki\u00a0 ikatan\u00a0 batin\u00a0 dengan\u00a0 kretek\u00a0 selain Mama\u00a0 Tua, Willy,\u00a0kawan-kawan seniman, dan Bu Nonce. Membayangkan betapa sebatang kretek\u00a0menjadi\u00a0 teman dalam perhentian di antara perjalanan, berendam di mata air\u00a0panas alami atau sekedar duduk di ruang tamu bersama salah satu novel Anais\u00a0Nin saat hujan, adalah momen-momen seksi. Yang mengajak untuk melupakan\u00a0sejenak\u00a0 permasalahan\u00a0 dunia\u00a0 yang\u00a0 semakin\u00a0 aneh-aneh\u00a0 saja,\u00a0 tetapi\u00a0 kemudian\u00a0mampu\u00a0 mengajak\u00a0 untuk\u00a0 menyelami\u00a0 diri\u00a0 sendiri\u00a0 sampai\u00a0 ke\u00a0 bagian-bagian\u00a0tergelapnya.\u00a0

                                                                                                                                                                                                      Beberapa\u00a0 kisah\u00a0 di\u00a0 atas memang\u00a0 bukan\u00a0 kisah-kisah\u00a0 bombastis. Hanya\u00a0
                                                                                                                                                                                                      kisah-kisah\u00a0 sederhana\u00a0 dari\u00a0 keseharian\u00a0 berikut\u00a0 perasasan-perasaan\u00a0 yang\u00a0menyertainya.\u00a0 Tapi\u00a0 justru,\u00a0 menyelami\u00a0 kenangan\u00a0 tentang\u00a0 kretek,\u00a0 kerabat-kerabat, petani, klobot, dan ladang; adalah proses pengenalan kembali terhadap\u00a0Indonesia,\u00a0 dan\u00a0 bagaimana\u00a0 saya\u00a0 berupaya\u00a0 mencintai\u00a0 negeri\u00a0 berikut\u00a0 sesama\u00a0makhluk ciptaan yang kuasa melalui sudut-sudutnya yang terabaikan.<\/p>\n\n\n\n


                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Mereka yang Mencintai Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mereka-yang-mencintai-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-03 09:37:45","post_modified_gmt":"2019-03-03 02:37:45","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5504","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":44},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};