Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n
Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n
Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n
Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n
**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n
Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n
Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n
**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n
Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n
Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n
Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n
**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n
Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n
Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n
Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n
**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n
Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n
Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n
Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n
**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n
Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n
Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n
Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n
Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n
**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n
Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n
Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n
Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n
***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n
Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n
Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n
Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n
Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n
Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
#save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi. Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi. Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya. Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi. Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen. Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya. Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi. Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek. Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen. Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya. Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi. Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek. Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen. Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya. Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi. Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek. Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen. Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya. Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi. Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek. Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen. Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya. Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi. Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Saya suka bersua dan ngobrol dengan orang-orang tua. Orang-orang yang telah sepuh dari segi usia. Selain untuk memuliakan mereka, sebagai peminat sejarah dan budaya, saya suka mendengar cerita-cerita dan kesaksian-kesaksian mereka tentang kampung yang saya tinggali dan perubahannya. Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek. Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen. Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya. Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi. Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sekali lagi, bagaimanapun juga duit dari rokok masih menjadi andalan untuk dana talangan pembiayaan kesehatan. Banyak daerah memang yang sudah mengambil kebijakan ini tapi itu biasanya diambil dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), tidak dari pajak rokok. Di Indonesia setiap daerah mendapatkan DBHCHT dan DBH pajak rokok. Keputusan MA yang ditautkan dalam tulisan ini makin menguatkan kebijakan daerah-daerah untuk menambal iuran BPJS warganya dari pajak rokok yang diterima daerah tersebut. Saya suka bersua dan ngobrol dengan orang-orang tua. Orang-orang yang telah sepuh dari segi usia. Selain untuk memuliakan mereka, sebagai peminat sejarah dan budaya, saya suka mendengar cerita-cerita dan kesaksian-kesaksian mereka tentang kampung yang saya tinggali dan perubahannya. Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek. Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen. Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya. Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi. Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n #save_kretek<\/a> Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n ** Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n *** Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":30},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Selain Haji Djamhari dan Notisemito ada satu perempuan dibalik terciptanya dan melambungnya kretek sebagai produk tembakau yang mempunyai nilai keekonomian. Beliau adalah Nasilah. Berawal dari kejengahan Mbok Nasilah atas kebiasaan nginang para kusir andong dan pedagang keliling yang mampir ke warungnya. Kebiasaan nginang para kusir dan pedagang meninggalkan ampas dan 'dubang' yang membuat warungnya kotor. Haji Djamhari menciptakan kretek karena alasan pengobatan sedang Nasilah menciptakannya atas kesadaran higenitas modern. Sekali lagi, bagaimanapun juga duit dari rokok masih menjadi andalan untuk dana talangan pembiayaan kesehatan. Banyak daerah memang yang sudah mengambil kebijakan ini tapi itu biasanya diambil dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT), tidak dari pajak rokok. Di Indonesia setiap daerah mendapatkan DBHCHT dan DBH pajak rokok. Keputusan MA yang ditautkan dalam tulisan ini makin menguatkan kebijakan daerah-daerah untuk menambal iuran BPJS warganya dari pajak rokok yang diterima daerah tersebut. Saya suka bersua dan ngobrol dengan orang-orang tua. Orang-orang yang telah sepuh dari segi usia. Selain untuk memuliakan mereka, sebagai peminat sejarah dan budaya, saya suka mendengar cerita-cerita dan kesaksian-kesaksian mereka tentang kampung yang saya tinggali dan perubahannya. Cengkeh dimasa lalu pernah mempunyai nilai yang sangat tinggi hingga sampai disebut sebagai emas coklat. Harga perkilogramnya jauh lebih tinggi dari 1 gram emas.Para kolonial datang dan menjajah kita sampai berabad-abad, salah satu alasannya adalah cengkeh ini.<\/p>\n\n\n\n Selain untuk bumbu dan minyak atsiri, kegunaan terpenting cengkeh saat itu adalah sebagai pengawet makanan alami. Dengan kandungan senyawa fenolik dalam jumlah yang tinggi yang mempunyai sifat antioksidan, cengkeh dapat mengawetkan makanan dengan mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri.<\/p>\n\n\n\n Pamor cengkeh mulai menurun saat revolusi industri. Ketika lemari pendingin ditemukan tentu mengawetkan makanan jadi jauh lebih praktis dengan menggunakan lemari pendingin.<\/p>\n\n\n\n Tetapi cengkeh mulai naik lagi pamornya saat Haji Djamhuri dari Kudus menjadikan cengkeh sebagai ramuan pencampur rokok. Temuan ini kemudian menghasilkan rokok yang sangat khas Indonesia sejak awal abad 20 yaitu Kretek. Pelan tapi pasti, para perokok Indonesiapun semakin menyukai kretek ini. Industri kretek lalu bermunculan dan bertumbuh cukup pesat sehingga kretek menjadi industri strategis nasional. Tentu saja rokok putih (tanpa cengkeh) yang umumnya milik perusahaan asing semakin ditinggalkan konsumen. Industri kretek yang semakin berkembang ini tentu semakin meningkatkan denyut perekonomian nasional. Ada puluhan juta orang yang kemudian menggantungkan hidupnya dalam industri ini, dari pemilik pabrik, pekerja, petani, buruh tani, pedagang, pedagang eceran dan keluarganya. Secara nasional, dampak industri ini terhadap perekonomian sangatlah signifikan. Dari cukai saja pemerintah mendapatkan 157 T (tahun lalu). Ini mungkin pendapatan pemerintah terbesar diluar pajak.<\/p>\n\n\n\n Industri kretek ini seperti \"BUMN\" bagi negara yang terus menerus memberi keuntungan tanpa harus mengeluarkan modal, tanpa harus bekerja apalagi sampai memberi gaji ratusan juta untuk para pimpinan dan komisarisnya seperti BUMN -BUMN resmi pemerintah tetapi tetap masih banyak yang rugi. Yang luar biasa lagi dari industri kretek ini adalah industri ini sepenuhnya sangat mandiri, artinya nyaris tidak ada ketergantungan dari unsur-unsur luar negeri dari hulu sampai kehilir. Betul-betul sangat Indonesia. Seburuk apapun situasi perekonomian dunia, industri kretek ini tidak akan bergeming. Lha yang memproduksi kita sendiri, bahannya dari kita dan yang mengkonsumsi juga kita sendiri. Industri kretek ini bisa dijadikan ikon ketahanan ekonomi nasional.<\/p>\n\n\n\n Belakangan ini, pemerintah mendapat tekanan yang semakin keras untuk meratifikasi FCTC, Framework Convention on Tobacco Control yang diinisiasi WHO yang tujuannya adalah menekan konsumsi rokok sampai sekecil mungkin termasuk upaya menghilangkan unsur perasa pada rokok (dalam konteks kita adalah cengkeh). Penekan terbanyak adalah organisasi-organisasi anti rokok dan tentu saja dengan jubah yang sangat indah \"kesehatan masyarakat\". Saya tidak mau berdebat soal kesehatan ini. Lihatlah para perokok itu menghisap rokoknya di ruang kecil bebas rokok dipojokan sambil berjejalan. Mereka sudah seperti warga kelas dua saja. Dan para perokok itu sudah hampir selalu distigmakan buruk, setidaknya sebagai pengganggu orang lain. Tetapi saya mempunyai pandangan bahwa masyarakat perokok akan tetap saja merokok. Ambilah misal kalau unsur perasa dalam rokok itu (cengkeh) dihilangkan, maka para perokok itu akan tetap merokok dan akan kembali ke rokok putih. Dan kita tahu siapa-siapa saja pemilik industri rokok putih itu. Jadi sebetulnya tidak perlu kecerdasan yang tinggi untuk memahami bahwa ini bukan semata masalah kesehatan. Kalau pemerintah meratifikasi FCTC, itu artinya lonceng kematian bagi industri kretek sudah dibunyikan. Dan puluhan juta orang yang menggantungkan hidupnya disana harus bersiap-siap dengan getir. Kalau memang benar rokok itu tidak sehat, maka kita akan dapat dobel dengan matinya industri kretek ini yaitu secara ketahanan ekonomi teramputasi dan masyarakat tetap sakit karena merokok.<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
Di kampung tempat saya tinggal sekarang, orang paling sepuh mungkin Mbah Projo, demikian kami memanggil. Darinya saya mendapat banyak cerita tentang kampung yang saya diami ini.
Saya mengira Mbah Projo merupakan salah satu keluarga \u2018asli\u2019 kampung ini. Dugaan ini saya bangun selain dari lokasi rumahnya, yang terpisah dari sejumlah rumah \u2018pendatang\u2019, juga karena ia memiliki ikatan kekerabatan dengan banyak keluarga di kampung ini yang dipandang sebagai penduduk \u2018asli\u2019.
Tetapi ternyata, menurut Mbah Projo, tidak. Mereka juga pendatang di kampung ini. Lho, bagaimana sejarahnya? Lalu mbah Projo cerita bahwa mereka dulu berasal dari utara, tepatnya Maguwoharjo. Waktu itu, kampung mereka dekat sekali dengan Lapangan Udara Maguwo, yang menjadi situs peperangan antara tentara Indonesia dan Belanda pada perang mempertahankan kemerdekaan. Mereka pindah ke daerah agak selatan, kampung kami sekarang ini, yang kalau ditarik garis lurus mungkin jaraknya 4-5 km. Perpindahan itu dilakukan untuk mengamankan diri Dan keluarga.
Jika cerita Mbah Projo benar maka peristiwa pindahnya mereka itu mungkin terjadi antara tahun 1947 -1949, saat agresi Belanda I dan II. Pada Agresi Belanda I, sejarah mencatat pesawat yang ditumpangi 9 orang, di antaranya Adi Sucipto, Abdurrahman Saleh, dan Adi Sumarmo, ditembak jatuh oleh pesawat Belanda ketika berputar-putar di udara Yogya menjelang pendaratan di bandara Maguwo, yang sekarang ganti nama jadi Adi Sucipto. Ya kira-kira kurang lebih tahun-tahun itulah.
Nah waktu itu mbah Projo usia berapa? Embuh, yang jelas saya masih kecil, tapi saya masih ingat jalan kaki dari Maguwo sana ke sini, jawab Mbah Projo. Sebagaimana umumnya orang desa, Mbah Projo betul-betul tak mengingat dan tak punya dokumen, kapan ia lahir. Tapi kalau kita boleh menaksir, jika saat itu usianya 5 tahunan saja, maka sekarang usianya 79 tahun.
Mbah Projo, dengan demikian, merupakan salah satu, kalau bukan satu-satunya orang tertua di RT saya.
Kulitnya hitam, rambut putih, dan gigi hampir tanggal semua. Sudah sepuh, tapi masih kuat saja. Hingga sekarang masih menggarap sawah, baik warisan keluarga maupun milik orang. Luasan sawah di kampung kami terus merosot, dan petani juga semakin langka. Mbah Projo sedikit yang tersisa.
Tapi dia sehat dan kuat. Ingatan masih jernih. Kemana-mana naik sepeda dan ini yang menarik: tetap dan terus merokok. Rokoknya kretek melinting sendiri, tapi kalau ada duit dia akan beli Djarum 76 atau Bintang Buana Kretek atau kretek-kretek yang lain. Saya pernah nanya sejak kapan udud? Sejak kecil, umur 10an tahun. Berarti sudah hampir tujuh dekade ia merokok. Bajigur tenan.
Kalau mau ke sawah, mbah Projo sering lewat depan rumah saya. Demikian juga kalau mau ke kandang sapi. Oh ya, dia juga memelihara dua ekor sapi milik orang. Kami selalu bersapaan dan saya kerap mengajaknya mampir, tapi dia menjawab: ke sawah dulu. Hanya sesekali ia berkenan dan dari sana ia banyak cerita kehidupannya. Misal bahwa di masa muda ia pernah merantau ke Lampung dan ke Jakarta bekerja sebagai buruh bangunan. Bahwa perumahan yang baru dibuka di RT kami, yang jumlahnya 20an buah, itu dulu rumah milik mantan carik. Duh sugih tenan, dan ia kemudian menyebut anak-cucu carik yang masih tinggal di sekitaran kampung kami.
Kalau malam dia kerap keluar, terutama untuk kepentingan menengok aliran air sawahnya. Naik sepeda, pakai sarung dan uniknya sering tak berjaket. Ampuh betul mbah Projo ini.
Kalau pas kami sedang giliran jaga malam, kami sering menawarinya untuk mampir cangkrukan sambil menikmati wedang dan cemilan. Sekali-sekali ia mau mampir. Tapi ketika melihat cemilannya kacang goreng sangrai dan kripik singkong, ia tampak kecewa sekali. \"Wow gak bisa mengunyah, sudah gak punya gigi,\" katanya. Saya merasa bersalah waktu itu. Tapi kemudian saya menawarinya rokok kretek. \"Wis udud wae,\" sambungnya dengan perasaan gembira. Lebih-lebih setelah kuminta dia bawa saja pulang rokok sisanya.
Terus terang Mbah Projo menjadi salah satu rujukan kami ketika ada debat di kampung untuk menolak atau mendukung anggapan rokok bisa bikin tidak sehat dan mengakibatkan kematian. Tentu saja eksistensi mbah Projo semacam kartu AS bagi penolak. Mbah Projo nyatanya gak mati-mati, padahal merokoknya gak henti-henti. Bahkan bisa dikata ia sehat sekali. Saya jarang mendengar kabar dia sakit. Berbeda dengan orang-orang yang lebih muda dari dia, yang bolak-balik sakit, dan bahkan meninggal, padahal ya tidak merokok. Sebaliknya, bagi yang antirokok atau antitembakau, dia hanya pengecualiaan belaka. Pengecualiaan kok banyak. Hehehe...
Saya jadi ingat terbitan buku teman-teman KNPK berjudul \"Mereka Yang Melampaui Waktu\" yang berisi kisah hidup beberapa orang di atas usia 70an tahun, yang tetap sehat, kuat, dan tetap dan terus merokok. Mbah Projo adalah orang yang juga melampaui waktu.
Jelas dari pengalaman mereka, juga mbah Projo, rokok sama sekali bukan faktor negatif. Faktor utamanya tetap gaya hidup. Pikiran tidak neko-neko, kerja fisik yang menggantikan olahraga rutin, dan makan sehat apa adanya, serta santai di pikiran dan tindakan.
Anda bisa saja tidak merokok, tapi klo gak pernah olahraga, makan apa saja yang ada di atas meja, dan berpikir berat dan gampang stress, ya penyakit apapun bisa dengan mudah mampir.
Kalau merokok? Ya sama saja, kalau gaya hidup ambyar dan amburadul, penyakit juga akan jadi teman akrab.
Jadi rokok bukanlah faktor utama, sehat atau tidak sehat. Yang utama gaya hidup. Mungkin bukan kebetulan, seperti mbah Projo, figur-figur dalam buku \"Yang Melampaui Waktu\" adalah orang-orang biasa, yang tak neko-neko dan santai. Dan kurang ajarnya, udud itu justru bagian dari hidup santai dan rekreatif. Hal inilah yang saya lihat dalam kehidupan orang seperti Mbah Projo.
Saya ingat lagi mBah Projo ketika dalam pertemuan RT dia duduk agak menjauh karena tidak ingin aroma kretek lintingannya mengganggu orang lain. Ia merdeka dan bebas. Rupanya Mbah Projo cukup tahu diri soal itu.
Mari berguru kepada Mbah Projo!
Hairus Salim, 13 Maret 2020 catatan seusai rapat rt<\/p>\n","post_title":"Yang Melampaui Waktu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-melampaui-waktu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-13 11:38:06","post_modified_gmt":"2020-03-13 04:38:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6575","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
\nPerlu diketahui bahwa di Indonesia ada dua macam pungutan yang dikenakan atas rokok. Satu pungutan cukai yang dihitung berdasarkan HJE dan ada pungutan pajak rokok yang dihitung dari besaran cukai produk rokok tersebut. Besaran pajak rokok yang dipungut sebesar 10% dari cukai. Pungutan cukai diatur melalui UU Cukai Tahun 2007 yang mencantumkan juga pengaturan pungutan untuk tembakau iris, cerutu, dan minuman mengandung etil alkohol. Sementara pungutan pajak rokok didasarkan kepada UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).
\nKeputusan MA ini bagi kalangan anti rokok adalah satu pukulan tersendiri. Mereka berpendapat pajak daerah seharusnya digunakan untuk mencegah dampak rokok tidak secara langsung didebit ke iuran BPJS. Nah karena anggaran kesehatan langsung didebit ke iuran BPJS maka tidak ada dana untuk kampanye anti rokok. Karena untuk penanggulangan dampak rokok dll diperlukan biaya sosialisasi dan sebagainya. Untuk itu mereka melakukan judicial review terhadap Perpres Nomor 82 Tahun 2018 pasal 99 dan 100 guna mengalihkan iuran BPJS ke dana penanggulangan dampak rokok termasuk.
\nNamun ada satu hal lagi yang mendasari tuntutan judicial review itu, bukan semata hanya memperebutkan dana kampanye. Landasan dari kerja-kerja gerakan anti rokok memang adalah Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau merujuk istilah internasionalnya adalah Framework Convention On Tobacco Control (FCTC). FCTC menghendaki negara berperan serta secara aktif dalam penanggulangan dan penanganan bahaya dan dampak rokok. Dengan landasan itu maka gerakan anti rokok di Indonesia memandang perlunya Pajak Rokok disalurkan kepada mereka bukan untuk menambal iuran BPJS di daerah.
\nIndonesia memang belum mengaksesi FCTC dan semoga tidak akan mengaksesinya. Peraturan pengendalian tembakau saat ini sudah mengatur secara adil kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia. Untuk itu pajak rokok yang dipungut bisa digunakan secara langsung untuk menambal iuran BPJS. Jika Indonesia mengaksesi FCTC sudah barang tentu peruntukan pajak rokok digunakan untuk membiayai penanggulangan dampak rokok. Karena semangat dari pengenaan pungutan tersebut salah satunya untuk membiayai kampanye anti rokok di daerah-daerah dimana salah satunya melalui penerapan Perda KTR.
\nDalam posisi ini saya sangat bersyukur MA masih memberikan keputusan yang berkeadilan demi jaminan kesehatan untuk seluruh rakyat Indonesia. Dan memang begitulah semestinya. Apapun wujudnya jika itu adalah pungutan pajak digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.<\/p>\n","post_title":"Pajak Rokok, Menalangi BPJS atau Membiayai Gerakan Antirokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pajak-rokok-menalangi-bpjs-atau-membiayai-gerakan-antirokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-14 09:56:15","post_modified_gmt":"2020-03-14 02:56:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6578","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6575,"post_author":"931","post_date":"2020-03-13 11:37:56","post_date_gmt":"2020-03-13 04:37:56","post_content":"\n
Di kampung tempat saya tinggal sekarang, orang paling sepuh mungkin Mbah Projo, demikian kami memanggil. Darinya saya mendapat banyak cerita tentang kampung yang saya diami ini.
Saya mengira Mbah Projo merupakan salah satu keluarga \u2018asli\u2019 kampung ini. Dugaan ini saya bangun selain dari lokasi rumahnya, yang terpisah dari sejumlah rumah \u2018pendatang\u2019, juga karena ia memiliki ikatan kekerabatan dengan banyak keluarga di kampung ini yang dipandang sebagai penduduk \u2018asli\u2019.
Tetapi ternyata, menurut Mbah Projo, tidak. Mereka juga pendatang di kampung ini. Lho, bagaimana sejarahnya? Lalu mbah Projo cerita bahwa mereka dulu berasal dari utara, tepatnya Maguwoharjo. Waktu itu, kampung mereka dekat sekali dengan Lapangan Udara Maguwo, yang menjadi situs peperangan antara tentara Indonesia dan Belanda pada perang mempertahankan kemerdekaan. Mereka pindah ke daerah agak selatan, kampung kami sekarang ini, yang kalau ditarik garis lurus mungkin jaraknya 4-5 km. Perpindahan itu dilakukan untuk mengamankan diri Dan keluarga.
Jika cerita Mbah Projo benar maka peristiwa pindahnya mereka itu mungkin terjadi antara tahun 1947 -1949, saat agresi Belanda I dan II. Pada Agresi Belanda I, sejarah mencatat pesawat yang ditumpangi 9 orang, di antaranya Adi Sucipto, Abdurrahman Saleh, dan Adi Sumarmo, ditembak jatuh oleh pesawat Belanda ketika berputar-putar di udara Yogya menjelang pendaratan di bandara Maguwo, yang sekarang ganti nama jadi Adi Sucipto. Ya kira-kira kurang lebih tahun-tahun itulah.
Nah waktu itu mbah Projo usia berapa? Embuh, yang jelas saya masih kecil, tapi saya masih ingat jalan kaki dari Maguwo sana ke sini, jawab Mbah Projo. Sebagaimana umumnya orang desa, Mbah Projo betul-betul tak mengingat dan tak punya dokumen, kapan ia lahir. Tapi kalau kita boleh menaksir, jika saat itu usianya 5 tahunan saja, maka sekarang usianya 79 tahun.
Mbah Projo, dengan demikian, merupakan salah satu, kalau bukan satu-satunya orang tertua di RT saya.
Kulitnya hitam, rambut putih, dan gigi hampir tanggal semua. Sudah sepuh, tapi masih kuat saja. Hingga sekarang masih menggarap sawah, baik warisan keluarga maupun milik orang. Luasan sawah di kampung kami terus merosot, dan petani juga semakin langka. Mbah Projo sedikit yang tersisa.
Tapi dia sehat dan kuat. Ingatan masih jernih. Kemana-mana naik sepeda dan ini yang menarik: tetap dan terus merokok. Rokoknya kretek melinting sendiri, tapi kalau ada duit dia akan beli Djarum 76 atau Bintang Buana Kretek atau kretek-kretek yang lain. Saya pernah nanya sejak kapan udud? Sejak kecil, umur 10an tahun. Berarti sudah hampir tujuh dekade ia merokok. Bajigur tenan.
Kalau mau ke sawah, mbah Projo sering lewat depan rumah saya. Demikian juga kalau mau ke kandang sapi. Oh ya, dia juga memelihara dua ekor sapi milik orang. Kami selalu bersapaan dan saya kerap mengajaknya mampir, tapi dia menjawab: ke sawah dulu. Hanya sesekali ia berkenan dan dari sana ia banyak cerita kehidupannya. Misal bahwa di masa muda ia pernah merantau ke Lampung dan ke Jakarta bekerja sebagai buruh bangunan. Bahwa perumahan yang baru dibuka di RT kami, yang jumlahnya 20an buah, itu dulu rumah milik mantan carik. Duh sugih tenan, dan ia kemudian menyebut anak-cucu carik yang masih tinggal di sekitaran kampung kami.
Kalau malam dia kerap keluar, terutama untuk kepentingan menengok aliran air sawahnya. Naik sepeda, pakai sarung dan uniknya sering tak berjaket. Ampuh betul mbah Projo ini.
Kalau pas kami sedang giliran jaga malam, kami sering menawarinya untuk mampir cangkrukan sambil menikmati wedang dan cemilan. Sekali-sekali ia mau mampir. Tapi ketika melihat cemilannya kacang goreng sangrai dan kripik singkong, ia tampak kecewa sekali. \"Wow gak bisa mengunyah, sudah gak punya gigi,\" katanya. Saya merasa bersalah waktu itu. Tapi kemudian saya menawarinya rokok kretek. \"Wis udud wae,\" sambungnya dengan perasaan gembira. Lebih-lebih setelah kuminta dia bawa saja pulang rokok sisanya.
Terus terang Mbah Projo menjadi salah satu rujukan kami ketika ada debat di kampung untuk menolak atau mendukung anggapan rokok bisa bikin tidak sehat dan mengakibatkan kematian. Tentu saja eksistensi mbah Projo semacam kartu AS bagi penolak. Mbah Projo nyatanya gak mati-mati, padahal merokoknya gak henti-henti. Bahkan bisa dikata ia sehat sekali. Saya jarang mendengar kabar dia sakit. Berbeda dengan orang-orang yang lebih muda dari dia, yang bolak-balik sakit, dan bahkan meninggal, padahal ya tidak merokok. Sebaliknya, bagi yang antirokok atau antitembakau, dia hanya pengecualiaan belaka. Pengecualiaan kok banyak. Hehehe...
Saya jadi ingat terbitan buku teman-teman KNPK berjudul \"Mereka Yang Melampaui Waktu\" yang berisi kisah hidup beberapa orang di atas usia 70an tahun, yang tetap sehat, kuat, dan tetap dan terus merokok. Mbah Projo adalah orang yang juga melampaui waktu.
Jelas dari pengalaman mereka, juga mbah Projo, rokok sama sekali bukan faktor negatif. Faktor utamanya tetap gaya hidup. Pikiran tidak neko-neko, kerja fisik yang menggantikan olahraga rutin, dan makan sehat apa adanya, serta santai di pikiran dan tindakan.
Anda bisa saja tidak merokok, tapi klo gak pernah olahraga, makan apa saja yang ada di atas meja, dan berpikir berat dan gampang stress, ya penyakit apapun bisa dengan mudah mampir.
Kalau merokok? Ya sama saja, kalau gaya hidup ambyar dan amburadul, penyakit juga akan jadi teman akrab.
Jadi rokok bukanlah faktor utama, sehat atau tidak sehat. Yang utama gaya hidup. Mungkin bukan kebetulan, seperti mbah Projo, figur-figur dalam buku \"Yang Melampaui Waktu\" adalah orang-orang biasa, yang tak neko-neko dan santai. Dan kurang ajarnya, udud itu justru bagian dari hidup santai dan rekreatif. Hal inilah yang saya lihat dalam kehidupan orang seperti Mbah Projo.
Saya ingat lagi mBah Projo ketika dalam pertemuan RT dia duduk agak menjauh karena tidak ingin aroma kretek lintingannya mengganggu orang lain. Ia merdeka dan bebas. Rupanya Mbah Projo cukup tahu diri soal itu.
Mari berguru kepada Mbah Projo!
Hairus Salim, 13 Maret 2020 catatan seusai rapat rt<\/p>\n","post_title":"Yang Melampaui Waktu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-melampaui-waktu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-13 11:38:06","post_modified_gmt":"2020-03-13 04:38:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6575","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n
Salam dari desa.<\/p>\n","post_title":"C\u1d07\u0274\u0262\u1d0b\u1d07\u029c \u1d05\u1d00\u0274 K\u0280\u1d07\u1d1b\u1d07\u1d0b","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"c%e1%b4%87%c9%b4%c9%a2%e1%b4%8b%e1%b4%87%ca%9c-%e1%b4%85%e1%b4%80%c9%b4-k%ca%80%e1%b4%87%e1%b4%9b%e1%b4%87%e1%b4%8b","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-07 11:16:51","post_modified_gmt":"2020-03-07 04:16:51","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6567","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n
\nNitisemito yang bekerja sebagai kusir andong seringkali mampir ke warung Nasilah. Seperti kisah cinta klasik pada umumnya dan membenarkan ungkapan \"witing tresno jalaran soko kulina\" Nasilah akhirnya diperistri oleh Nitisemito pada tahun 1894. Sejak saat itu produk kretek Nitisemito dan Nasilah merajai pasar dengan merk dagang \"Tjap Bal Tiga\".
\nPada tahun 2009 disahkan sebuah Undang-Undang dimana salah satu pasalnya menggolongkan tembakau sebagai zat adiktif. Peraturan yang berwujud UU itu memerlukan satu peraturan pelaksanaan berupa Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri agar bisa dilaksanakan untuk mengendalikan konsumsi dan peredaran produk tembakau. Sangat disangyangkan dalam draft Rancangan Peraturan Pemerintah tersebut pasal-pasal yang terkandung didalamnya bertujuan untuk mematikan industri tembakau dari hulu ke hilir.
\nKretek sebagai produk tembakau khas Indonesia dan satu-satunya didunia adalah produk yang paling disasar untuk dimatikan. Kretek merajai pasar dalam negeri sejak era Nitisemito hingha kini. Meskipun pada saat era revolusi dan perang kemerdekaan produk kretek belum seperti sekarang tapi kekhasan itu tidak pernah hilang. Tentu saja RPP sebagai peraturan pelaksaan pengendalian tembakau di Indonesia mengacu kepada induk peraturan yang berlaku di seluruh Indonesia, yaitu FCTC. Siti Fadhilah Supari, mantan Menteri Kesehatan yang mengalami masa-masa awal FCTC pada tahun 2012 mengatakan \"Saya tidak pernah mau menandatangani perjanjian itu, karena menurut saya kretek kita akan mati jika peraturan itu saya tanda tangani\".
\nPertanyaannya apakah FCTC berkaitan dengan kretek? Oke sebelum itu mari kita telaah dulu apa itu Kretek? Menurut kaidah yang tertera dalam SNI Kretek adalah campuran tembakau rajangan, krosok rajang, cengkeh rajang dan tambahan bahan-bahan perisa, yang menghasilkan campuran beraroma khas, dilinting dengan berbagai bahan pembungkus (ambri\/papir\/tipping) dan pendukung (lem) dengan atau tanpa filter. Jadi tanpa bahan selain tembakau sudah jelas tidak bisa disebut kretek.
\nDengan pengertian apa yang disebut kretek menurut salah satu kaidah tersebut maka dalam hal ini kita perlu menelisik pasal 9 dan 10 FCTC guna melihat bagaimana kretek dimatikan melalui FCTC. Pasal 9 dan 10 mengatur tentang kandungan (ingredient) rokok yang mengarah pada standardisasi kandungan rokok. Pengaturan ini telah disokong oleh para anggota FCTC dalam pertemuan anggota atau Conference of Parties (CoP) ke-4 di Uruguay tahun 2010. CoP telah merekomendasikan mengurangi daya tarik rokok atas bahan tambahan dan aroma.
\nMeskipun pasal-pasal dalam FCTC tidak pernah berubah namun dalam CoP mereka selalu memperbarui atau mengubah ketentuan-ketentuan yang telah disepakati sebelumnya dan menuangkan kesepakatan itu sebagai \"Guidelines\" yang harus diikuti oleh negara-negara yang telah meratifikasi FCTC. Dengan alasan tersebut sudah cukup bagi seluruh pemangku kepentingan industri hasil tembakau di Indonesia untuk menolak FCTC.
\nBeberapa negara seperti Brazil pada 2012 telah menerapkan larangan rokok beraroma beredar di negaranya. Demikian juga negara-negara di Uni Eropa, yang menerapkan larangan rokok dengan flavor, perasa dan aroma dalam \u201cTobacco Directive 2001\/37\/EC\u201d pada 2013. Harus diakui kretek adalah produk tembakau yang telah menjadi tradisi dan terus menghidupi hingga kini. Sayangnya akan dimatikan hanya atas kepentingan monopoli, entah itu oleh mereka yang berasal dari luar negeri ataupun oleh saudara kita sendiri.<\/p>\n","post_title":"Kretek, Ditemukan Haji Djamhari Dibunuh FCTC","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-ditemukan-haji-djamhari-dibunuh-fctc","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-16 09:49:30","post_modified_gmt":"2020-03-16 02:49:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6581","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6578,"post_author":"845","post_date":"2020-03-14 09:56:06","post_date_gmt":"2020-03-14 02:56:06","post_content":"\n
\nPerlu diketahui bahwa di Indonesia ada dua macam pungutan yang dikenakan atas rokok. Satu pungutan cukai yang dihitung berdasarkan HJE dan ada pungutan pajak rokok yang dihitung dari besaran cukai produk rokok tersebut. Besaran pajak rokok yang dipungut sebesar 10% dari cukai. Pungutan cukai diatur melalui UU Cukai Tahun 2007 yang mencantumkan juga pengaturan pungutan untuk tembakau iris, cerutu, dan minuman mengandung etil alkohol. Sementara pungutan pajak rokok didasarkan kepada UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).
\nKeputusan MA ini bagi kalangan anti rokok adalah satu pukulan tersendiri. Mereka berpendapat pajak daerah seharusnya digunakan untuk mencegah dampak rokok tidak secara langsung didebit ke iuran BPJS. Nah karena anggaran kesehatan langsung didebit ke iuran BPJS maka tidak ada dana untuk kampanye anti rokok. Karena untuk penanggulangan dampak rokok dll diperlukan biaya sosialisasi dan sebagainya. Untuk itu mereka melakukan judicial review terhadap Perpres Nomor 82 Tahun 2018 pasal 99 dan 100 guna mengalihkan iuran BPJS ke dana penanggulangan dampak rokok termasuk.
\nNamun ada satu hal lagi yang mendasari tuntutan judicial review itu, bukan semata hanya memperebutkan dana kampanye. Landasan dari kerja-kerja gerakan anti rokok memang adalah Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau merujuk istilah internasionalnya adalah Framework Convention On Tobacco Control (FCTC). FCTC menghendaki negara berperan serta secara aktif dalam penanggulangan dan penanganan bahaya dan dampak rokok. Dengan landasan itu maka gerakan anti rokok di Indonesia memandang perlunya Pajak Rokok disalurkan kepada mereka bukan untuk menambal iuran BPJS di daerah.
\nIndonesia memang belum mengaksesi FCTC dan semoga tidak akan mengaksesinya. Peraturan pengendalian tembakau saat ini sudah mengatur secara adil kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia. Untuk itu pajak rokok yang dipungut bisa digunakan secara langsung untuk menambal iuran BPJS. Jika Indonesia mengaksesi FCTC sudah barang tentu peruntukan pajak rokok digunakan untuk membiayai penanggulangan dampak rokok. Karena semangat dari pengenaan pungutan tersebut salah satunya untuk membiayai kampanye anti rokok di daerah-daerah dimana salah satunya melalui penerapan Perda KTR.
\nDalam posisi ini saya sangat bersyukur MA masih memberikan keputusan yang berkeadilan demi jaminan kesehatan untuk seluruh rakyat Indonesia. Dan memang begitulah semestinya. Apapun wujudnya jika itu adalah pungutan pajak digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.<\/p>\n","post_title":"Pajak Rokok, Menalangi BPJS atau Membiayai Gerakan Antirokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pajak-rokok-menalangi-bpjs-atau-membiayai-gerakan-antirokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-14 09:56:15","post_modified_gmt":"2020-03-14 02:56:15","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6578","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6575,"post_author":"931","post_date":"2020-03-13 11:37:56","post_date_gmt":"2020-03-13 04:37:56","post_content":"\n
Di kampung tempat saya tinggal sekarang, orang paling sepuh mungkin Mbah Projo, demikian kami memanggil. Darinya saya mendapat banyak cerita tentang kampung yang saya diami ini.
Saya mengira Mbah Projo merupakan salah satu keluarga \u2018asli\u2019 kampung ini. Dugaan ini saya bangun selain dari lokasi rumahnya, yang terpisah dari sejumlah rumah \u2018pendatang\u2019, juga karena ia memiliki ikatan kekerabatan dengan banyak keluarga di kampung ini yang dipandang sebagai penduduk \u2018asli\u2019.
Tetapi ternyata, menurut Mbah Projo, tidak. Mereka juga pendatang di kampung ini. Lho, bagaimana sejarahnya? Lalu mbah Projo cerita bahwa mereka dulu berasal dari utara, tepatnya Maguwoharjo. Waktu itu, kampung mereka dekat sekali dengan Lapangan Udara Maguwo, yang menjadi situs peperangan antara tentara Indonesia dan Belanda pada perang mempertahankan kemerdekaan. Mereka pindah ke daerah agak selatan, kampung kami sekarang ini, yang kalau ditarik garis lurus mungkin jaraknya 4-5 km. Perpindahan itu dilakukan untuk mengamankan diri Dan keluarga.
Jika cerita Mbah Projo benar maka peristiwa pindahnya mereka itu mungkin terjadi antara tahun 1947 -1949, saat agresi Belanda I dan II. Pada Agresi Belanda I, sejarah mencatat pesawat yang ditumpangi 9 orang, di antaranya Adi Sucipto, Abdurrahman Saleh, dan Adi Sumarmo, ditembak jatuh oleh pesawat Belanda ketika berputar-putar di udara Yogya menjelang pendaratan di bandara Maguwo, yang sekarang ganti nama jadi Adi Sucipto. Ya kira-kira kurang lebih tahun-tahun itulah.
Nah waktu itu mbah Projo usia berapa? Embuh, yang jelas saya masih kecil, tapi saya masih ingat jalan kaki dari Maguwo sana ke sini, jawab Mbah Projo. Sebagaimana umumnya orang desa, Mbah Projo betul-betul tak mengingat dan tak punya dokumen, kapan ia lahir. Tapi kalau kita boleh menaksir, jika saat itu usianya 5 tahunan saja, maka sekarang usianya 79 tahun.
Mbah Projo, dengan demikian, merupakan salah satu, kalau bukan satu-satunya orang tertua di RT saya.
Kulitnya hitam, rambut putih, dan gigi hampir tanggal semua. Sudah sepuh, tapi masih kuat saja. Hingga sekarang masih menggarap sawah, baik warisan keluarga maupun milik orang. Luasan sawah di kampung kami terus merosot, dan petani juga semakin langka. Mbah Projo sedikit yang tersisa.
Tapi dia sehat dan kuat. Ingatan masih jernih. Kemana-mana naik sepeda dan ini yang menarik: tetap dan terus merokok. Rokoknya kretek melinting sendiri, tapi kalau ada duit dia akan beli Djarum 76 atau Bintang Buana Kretek atau kretek-kretek yang lain. Saya pernah nanya sejak kapan udud? Sejak kecil, umur 10an tahun. Berarti sudah hampir tujuh dekade ia merokok. Bajigur tenan.
Kalau mau ke sawah, mbah Projo sering lewat depan rumah saya. Demikian juga kalau mau ke kandang sapi. Oh ya, dia juga memelihara dua ekor sapi milik orang. Kami selalu bersapaan dan saya kerap mengajaknya mampir, tapi dia menjawab: ke sawah dulu. Hanya sesekali ia berkenan dan dari sana ia banyak cerita kehidupannya. Misal bahwa di masa muda ia pernah merantau ke Lampung dan ke Jakarta bekerja sebagai buruh bangunan. Bahwa perumahan yang baru dibuka di RT kami, yang jumlahnya 20an buah, itu dulu rumah milik mantan carik. Duh sugih tenan, dan ia kemudian menyebut anak-cucu carik yang masih tinggal di sekitaran kampung kami.
Kalau malam dia kerap keluar, terutama untuk kepentingan menengok aliran air sawahnya. Naik sepeda, pakai sarung dan uniknya sering tak berjaket. Ampuh betul mbah Projo ini.
Kalau pas kami sedang giliran jaga malam, kami sering menawarinya untuk mampir cangkrukan sambil menikmati wedang dan cemilan. Sekali-sekali ia mau mampir. Tapi ketika melihat cemilannya kacang goreng sangrai dan kripik singkong, ia tampak kecewa sekali. \"Wow gak bisa mengunyah, sudah gak punya gigi,\" katanya. Saya merasa bersalah waktu itu. Tapi kemudian saya menawarinya rokok kretek. \"Wis udud wae,\" sambungnya dengan perasaan gembira. Lebih-lebih setelah kuminta dia bawa saja pulang rokok sisanya.
Terus terang Mbah Projo menjadi salah satu rujukan kami ketika ada debat di kampung untuk menolak atau mendukung anggapan rokok bisa bikin tidak sehat dan mengakibatkan kematian. Tentu saja eksistensi mbah Projo semacam kartu AS bagi penolak. Mbah Projo nyatanya gak mati-mati, padahal merokoknya gak henti-henti. Bahkan bisa dikata ia sehat sekali. Saya jarang mendengar kabar dia sakit. Berbeda dengan orang-orang yang lebih muda dari dia, yang bolak-balik sakit, dan bahkan meninggal, padahal ya tidak merokok. Sebaliknya, bagi yang antirokok atau antitembakau, dia hanya pengecualiaan belaka. Pengecualiaan kok banyak. Hehehe...
Saya jadi ingat terbitan buku teman-teman KNPK berjudul \"Mereka Yang Melampaui Waktu\" yang berisi kisah hidup beberapa orang di atas usia 70an tahun, yang tetap sehat, kuat, dan tetap dan terus merokok. Mbah Projo adalah orang yang juga melampaui waktu.
Jelas dari pengalaman mereka, juga mbah Projo, rokok sama sekali bukan faktor negatif. Faktor utamanya tetap gaya hidup. Pikiran tidak neko-neko, kerja fisik yang menggantikan olahraga rutin, dan makan sehat apa adanya, serta santai di pikiran dan tindakan.
Anda bisa saja tidak merokok, tapi klo gak pernah olahraga, makan apa saja yang ada di atas meja, dan berpikir berat dan gampang stress, ya penyakit apapun bisa dengan mudah mampir.
Kalau merokok? Ya sama saja, kalau gaya hidup ambyar dan amburadul, penyakit juga akan jadi teman akrab.
Jadi rokok bukanlah faktor utama, sehat atau tidak sehat. Yang utama gaya hidup. Mungkin bukan kebetulan, seperti mbah Projo, figur-figur dalam buku \"Yang Melampaui Waktu\" adalah orang-orang biasa, yang tak neko-neko dan santai. Dan kurang ajarnya, udud itu justru bagian dari hidup santai dan rekreatif. Hal inilah yang saya lihat dalam kehidupan orang seperti Mbah Projo.
Saya ingat lagi mBah Projo ketika dalam pertemuan RT dia duduk agak menjauh karena tidak ingin aroma kretek lintingannya mengganggu orang lain. Ia merdeka dan bebas. Rupanya Mbah Projo cukup tahu diri soal itu.
Mari berguru kepada Mbah Projo!
Hairus Salim, 13 Maret 2020 catatan seusai rapat rt<\/p>\n","post_title":"Yang Melampaui Waktu","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-melampaui-waktu","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-13 11:38:06","post_modified_gmt":"2020-03-13 04:38:06","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6575","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6567,"post_author":"932","post_date":"2020-03-07 11:16:49","post_date_gmt":"2020-03-07 04:16:49","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Untuk informasi, industri kretek ini menyerap sekitar 97% produksi cengkeh nasional.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dalam kampanyenya, WHO dan para anti rokok ini sebetulnya sudah sangat berhasil di Indonesia. Sudah sulit sekali kita menemukan kawasan bebas rokok saat ini dan dimana-mana bertebaran tanda larangan merokok.
<\/p>\n\n\n\n
Jadi secara posisi, para anti rokok ini sudah mendapatkan kemenangan yang sangat besar.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Ini perang dagang!!!<\/p>\n\n\n\n
Ketika industri kretek dimatikan, secara ekonomi kita seperti bunuh diri dengan mengamputasi sumber daya ekonomi kita yang paling mandiri, sementara disisi lain masyarakat akan tetap saja merokok (rokok putih yang bukan produk kita).
<\/p>\n\n\n\n